Travel Penyelenggara Haji Khusus

Travel Penyelenggara Haji Khusus

Travel Penyelenggara Haji Khusus

Kemajuan teknologi yang Sahabat Haji Plus rasakan saat ini tentunya berpengaruh terhadap kemudahan Sahabat Haji Plus dalam mencari informasi yang hendak diinginkan. Salah satunya ialah informasi terkait pelaksanaan ibadah haji. Pastinya, Sahabat Haji Plus saat ini dapat dengan mudahnya mengakses segala informasi yang ingin diketahui. Meskipun segala informasi mudah ditemui, tapi tahukah Sahabat Haji Plus bahwasannya tak semua informasi itu benar. Ada pula yang menyuguhkan informasi dengan kebenaran yang meragukan. Hal inilah yang hendaknya Sahabat Haji Plus pahami agar tak mudah tertipu dengan suguhan informasi yang ada. Bagi Sahabat Haji Plus yang mendapatkan informasi terkait jasa travel yang memberikan penawaran yang menggiurkan, hendaknya Sahabat Haji Plus mengecek keaslian informasi tersebut. Caranya ialah dengan melihat rekam jejak jasa travel tersebut. Karena tak bisa pungkiri bahwa saat ini banyak sekali yang mengatasnamakan jasa travel untuk melakukan penipuan. Nah, bagi Sahabat Haji Plus yang ingin mendaftar Haji Plus dengan Paket Haji Khusus dan sedang mencari jasa Travel Penyelenggara Haji Khusus yang recommended, Sahabat Haji Plus dapat mengeceknya di hajiplus.id. Tak perlu khawatir perihal Travel Haji Plus yang satu ini, pasalnya telah terbukti berkualitas dan berpengalaman. Terkait Biaya Haji Plus yang ditawarkannya pun dengan harga terbaik. Bagi Sahabat haji Plus yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut, yuk simak informasi di bawah ini.

Tujuan Manasik Haji

Dalam segala hal, sesuatu tak akan sah dan berjalan dengan baik tanpa disertai ilmu yang cukup dan kemauan belajar yang tinggi. Hal inilah yang sama halnya dengan pelaksanaan ibadah haji umat muslim. Karena seperti yang diketahui bahwa ilmu menjadi sebuah penuntun ibadah agar dapat berjalan dengan baik serta diterima oelh Allah Swt. Oleh karena itulah, apabila seorang ingin melaksanakan ibadah Haji hendaknya terlebih dahulu untuk mempelajari manasik Haji dengan baik. Manasik haji ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada setiap calon jamaah Haji terkait tujuan utama keberangkatannya ke Tanah Suci. Tujuan dari diadakannya manasik haji ialah untuk mempermudah calon Jamaah Haji dalam memahami terkait rangkaian kegiatan pelaksanaan ibadah haji yang dilaksanakan, baik secara teoritis maupun praktis. Nah, apa saja sih tujaun manasik haji? Berikut lebih jelasnya.

  1. Calon jamaah haji mendapatkan pemanduan pengajaran bahasa Arab untuk percakapan ringan di Tanah Suci nantinya.
  2. Calon jamaah haji mengetahui ittenary perjalanan mereka selama di Tanah Suci.
  3. Calon jamaah haji dapat memahami cara mnghindari diri dari kejahatan dan penipuan di Tanah Suci
  4. Calon jamaah haji dapat memahami kondisi Makkah dan Madinah yang tentunya berguna untuk persiapan pelaksanaan ibadah haji nantinya. Sehingga jamaah haji dapat mempersiapkan diri dengan baik serta mengantisipasi terhadap cuaca yang berbeda dengan cuaca di tanah air.
  5. Calon jamaah haji dapat saling mengenal dengan jamaah lainnya sehingga saat di Makkah dan Madinah bisa saling membantu dan terikat persaudaraan yang kuat.
  6. Calon jamaah haji dapat Mengerti terkait doa – doa sunnah mulai dari keluar rumah untuk melaksanakan ibadah haji hingga menginjakkan kaki kembali ke Tanah Air dari Makkah atau Madinah.
  7. Calon jamaah haji menjadi memahami terkait hal yang baik tentang pelaksanaan dalam ibadah haji seperti mana yang wajib, rukun, sunnah, dan haram saat melaksanakan ibadah Haji.
  8. Calon jamaah haji dapat memahami terkait solusi terhadap kejadian kejadian darurat saat berada di Tanah Suci seperti antisipasi jika ada kerusuhan, bencana, kebakaran di pemondokan dan lain lain.
  9. Calon jamaah haji bisa memahami situasi dan kondisi yang aman untuk berada di dalam masjid, kapan waktu yang tepat untuk berangkat ke masjid dan sebagainya.
  10. Calon jamaah haji mendapatkan tips untuk sholat di tempat – tempat mustajab di Makkah maupun Madinah.

Saat di Tanah Suci, Terapkan Prinsip 7S

Mungkin Sahabat Haji Plus bertanya – tanya terkait apa itu 7S. Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa kepanjangan dari 7S ialah senyum, sapa, salam, sopan, sabar, sehat, sedekah. Pada saat Sahabat Haji Plus  berniat untuk melaksanakan ibadah haji, hendaknya Sahabat Haji Plus sebagai calon jamaah haji harus meluruskan niat dengan menghilangkann semua hal yang buruk dalam diri. Selain itu, hendaknya Sahabat Haji Plus memperbanyak amalan – amalan yang berpahala seperti tawaf, membaca Al – Qur’an dan lain sebagainya. Sahabat Haji Plus hendaknya meningkatkan tali silaturahim sesama umat Islam. Pelaksanaan ibadah haji tentunya memiliki tujuan. Selain bertujuan untuk beribadah kepada Allah Swt, ibadah haji juga sebagai implementasi ibadah sosial atau sesama manusia. Terdapat tujuh hal yang hendaknya  diperhatikan Sahabat Haji Plus agar pelaksanaan ibadah haji dapat menjadi ibadah sosial yang baik. Tujuh hal itu senyum, sapa, salam, sopan, sabar, sehat dan sedekah. Karena apabila tujuh hal itu dipraktekkan, tentu akan menjadi salah satu bagian dari silaturahim bukan?

Baca Artikel Lainnya :  Pengertian Rukun Haji dan Waktu Pelaksanaan nya

Sudah seharusnya prinsip 7S ini harus selalu diterapkan, termasuk pada saat melaksanakan ibadah – ibadah wajib selama berada di Tanah Suci. Contohnya pada saat Sahabat Haji Plus  sedang melakukan tawaf, nah Sahabat Haji Plus harus  menghormati orang lain. Sehingga dapat meminimalisir adanya jamaah yang terzalimi seperti terinjak. Tak hanya itu saja, Islam juga mengajarkan mengenai keseimbangan antara beribadah kepada Allah dan kasih sayang sesama manusia. Sehingga, dalam beribadah kepada Allah hendaknya manusia tak boleh memaksakan diri. Contohnya ialah dengan berdesak – desakan hingga menyiksa diri dan mendhalimi orang lain demi sekadar rasa puas untuk beribadah. Perlu diketahui bahwa agama Islam selalu mengajarkan tentang keseimbangan keseimbangan.

Rangkaian Kegiatan Ibadah Haji

Tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah)

  1. Pada waktu Dhuha, jamaah haji berihram dari tempat tinggalnya dengan niat akan melaksanakan ibadah haji, ini bagi yang berniat haji tamattu’. Sedangkan bagi yang berniat haji ifrad dan qiron, ia tetap berihram dari awal.
  2. Setelah berihram, wajib menjauhi segala larangan ihram.
  3. Memperbanyak talbiyah.
  4. Bertolak menuju Mina sambil bertalbiyah.
  5. Melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh di Mina. Shalat-shalat tersebut dikerjakan di waktunya masing-masing (tanpa dijamak) dan shalat empat raka’at (Zhuhur, Ashar dan Maghrib) diqoshor.
  6. Mabit (bermalam) di Mina dan hukumnya sunnah.
  7. Memperbanyak dzikir kala itu seperti dzikir pagi dan petang, juga dzikir lainnya.

Tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah)

  1. Sesudah shalat Shubuh di Mina dan setelah matahari terbit, bertolak menuju Arafah sambil bertalbiyah dan bertakbir.
  2. Pada hari Arafah, yang disunnahkan bagi jama’ah haji adalah tidak berpuasa sebagaimana contoh dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Jika memungkinkan, sebelum wukuf di Arafah, turun sebentar di masjid Namirah hingga masuk waktu Zhuhur.
  4. Jika memungkinkan, mendengarkan khutbah di masjid Namirah, lalu mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan jamak taqdim dan diqashar dengan satu adzan dan dua iqamah.
  5. Setelah shalat Zhuhur, memasuki padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.
  6. Ketika wukuf, berupaya semaksimal mungkin untuk berkonsentrasi dalam do’a, dzikir dan merendahkan diri kepada Allah.
  7. Menghadap ke arah kiblat ketika berdo’a sambil mengangkat kedua tangan dengan penuh kekhusyu’an.
  8. Saat wukuf, memperbanyak bacaan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir” dan bacaan shalawat.
  9. Tidak keluar meninggalkan Arafah kecuali setelah matahari tenggelam.
  10. Setelah matahari terbenam, bertolak menuju Muzdalifah dengan penuh ketenangan.
  11. Sampai di Muzdalifah, lakukan terlebih dahulu shalat Maghrib dan Isya’ dengan dijamak dan diqashar (shalat Maghrib 3 rakaat, sedangkan shalat Isya’ 2 raka’at) dengan satu adzan dan dua iqamah.
  12. Mabit di Muzdalifah dilakukan hingga terbit fajar. Adapun bagi kaum lemah dan para wanita dibolehkan untuk berangkat ke Mina setelah pertengahan malam.

Tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahr atau Idul Adha)

  1. Para jamaah haji harus shalat Shubuh di Muzdalifah, kecuali kaum lemah dan para wanita yang telah bertolak dari Muzdalifah setelah pertengahan malam.
  2. Setelah shalat Shubuh, menghadap ke arah kiblat, memuji Allah, bertakbir, bertahlil, serta berdo’a kepada Allah hingga langit kelihatan terang benderang.
  3. Berangkat menuju Mina sebelum matahari terbit dengan penuh ketenangan sambil bertalbiyah/ bertakbir.
  4. Ketika tiba di lembah Muhasir, langkah dipercepat bila memungkinkan.
  5. Menyiapkan batu untuk melempar jumroh yang diambil dari Muzdalifah atau dari Mina.
  6. Melempar jumroh ‘aqobah dengan tujuh batu kecil sambil membaca “Allahu Akbar” pada setiap lemparan.
  7. Setelah melempar jumroh ‘Aqobah berhenti bertalbiyah.
  8. Bagi yang berhaji tamattu’ dan qiran, menyembelih hadyu setelah itu. Yang tidak mampu menyembelih hadyu, maka diwajibkan berpuasa selama 10 hari: 3 hari pada masa haji dan 7 hari setelah kembali ke kampung halaman. Puasa pada tiga hari saat masa haji boleh dilakukan pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
  9. Mencukur rambut atau memendekkannya. Namun mencukur (gundul) itu lebih utama. Bagi wanita, cukup menggunting rambutnya sepanjang satu ruas jari.
  10. Jika telah melempar jumroh dan mencukur rambut, maka berarti telah tahallul awwal. Ketika itu, halal segala larangan ihram kecuali yang berkaitan dengan wanita. Setelah tahallul awwal boleh memakai pakaian bebas.
  11. Menuju Makkah dan melaksanakan thawaf ifadhoh.
  12. Melaksanakan sa’i haji antara Shafa dan Marwah bagi haji tamattu’ dan bagi haji qiron dan ifrod yang belum melaksanakan sa’i haji. Namun jika sa’i haji telah dilaksanakan setelah thawaf qudum, maka tidak perlu lagi melakukan sa’i setelah thawaf ifadhoh.
  13. Dengan selesai thawaf ifadhoh berarti telah bertahallul secara sempurna (tahalluts tsani) dan dibolehkan melaksanakan segala larangan ihram termasuk jima’ (hubungan intim dengan istri).
Baca Artikel Lainnya :  Travel Haji Plus Tahun 2022

Tanggal 11 Dzulhijjah (Hari Tasyrik)

  1. Mabit di Mina pada sebagian besar malam.
  2. Menjaga shalat lima waktu dengan diqashar (bagi shalat yang empat raka’at) dan dikerjakan di waktunya masing-masing (tanpa dijamak).
  3. Memperbanyak takbir pada setiap kondisi dan waktu.
  4. Melempar jumroh yang tiga setelah matahari tergelincir, mulai dari jumroh ula (shugro), jumroh wustho, dan jumroh kubro (aqobah).
  5. Melempar setiap jumroh dengan tujuh batu kecil sambil membaca “Allahu Akbar” pada setiap lemparan.
  6. Termasuk yang disunnahkan ketika melempar adalah menjadikan posisi Makkah berada di sebelah kiri dan Mina di sebelah kanan.
  7. Setelah melempar jumroh ula dan wustho disunnahkan untuk berdoa dengan menghadap ke arah kiblat. Namun, setelah melempar jumroh aqobah tidak disunnahkan untuk berdo’a.
  8. Mabit di Mina.

Tanggal 12 Dzulhijjah (Hari Tasyrik)

  1. Melakukan amalan seperti hari ke-11.
  2. Jika selesai melempar ketiga jumroh lalu ingin pulang ke negerinya, maka dibolehkan, namun harus keluar Mina sebelum matahari tenggelam. Kemudian setelah itu melakukan thawaf wada’. Keluar dari Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah disebut nafar awwal.
  3. Bagi yang ingin menetap sampai tanggal 13 Dzulhijjah, berarti di malamnya ia melakukan mabit seperti hari sebelumnya.
  4. Tanggal 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik)
  5. Melakukan amalan seperti hari ke-11 dan ke-12.
  6. Setelah melempar jumroh sesudah matahari tergelincir, kemudian bertolak meninggalkan Mina. Ini dinamakan nafar tsani.
  7. Jika hendak kembali ke negeri asal, maka lakukanlah thawaf wada’ untuk meninggalkan Baitullah. Bagi wanita haidh dan nifas, mereka diberi keringanan tidak melakukan thawaf wada’. Thawaf wada’ adalah manasik terakhir setelah manasik lainnya selesai. (Sebagian besar diambil dari Meneladani Manasik Haji dan Umrah, 131-144)

Ornamen Ka’bah di Tanah Suci

Tentang Ka’bah, pastinya Sahabat Haji Plus begitu memahami. Terlebih, Ka’bah ini menjadi kiblat umat muslim diseluruh dunia. Seperti yang Sahabat Haji Plus ketahui bahwa Ka’bah memiliki ornamen – ornamen yang menyertai. Nah, apa saja sih yang ada pada Ka’bah? Berikut lebih jelasnya.

  1. Hijir Ismail

Selain hajar aswad, hijir ismail juga bagian Ka’bah yang tentunya tak asing bagi Sahabat Haji Plus sekalian. Hijir Ismail merupakan sebuah bangunan yang berbentuk setengah lingkaran yang dibangun oleh Nabi Ismail As. Hijir Ismail berada di sebelah utara bangunan ka’bah dengan tinggi tembok sekitar 3,11 meter. Hijir ismail ini dipercaya sebagai tempat doa yang mustajab.  Oleh karena itu, pada saat Sahabat Haji Plus berada di hijir ismail jangan lewatkan untuk berdoa di tempat tersebut.

  1. Hajar Aswad

Hajar Aswad menjadi salah satu bagian yang rupanya tak asing bagi Sahabat Haji Plus bukan? Pasalnya hajar aswad inilah yang paling ingin dilihat Sahabat Haji Plus saat berkunjung ke Tanah Suci. Memang faktanya, dari banyaknya bagian – bagian ka’bah hajar aswad inilah yang paling menarik. Pada mulanya Hajar Aswad ini merupakan sebongkah batu besar dengan ukuran kurang lebih 30 cm. Beberapa peristiwa yang terjadi pada jaman dahulu membuat  hajar aswad kini hanya berbentuk pecahan kecil batu hitam berbentuk bulat lonjong sebesar ukuran biji kurma dengan dilapisi perak di dalamnya. Bagi Sahabat Haji Plus yang bertanya – tanya dimanakah letak hajar aswad, hajar aswad ini terletak di sisi selatan ka’bah dan dipercaya sebagai batu mulia yang berasal dari surga. 

  1. Pintu ka’bah

Pintu ka’bah merupakan termasuk ke dalam bagian penting Ka’bah yang terletak disebelah timur laut. Ketinggian pintu ka’bah dari atas lantai diperkirakan sekitar 2 meter. Diketahui, pintu Ka’bah ini terbuat dari emas murni sebanyak 280 kilogram. Biaya yang diperkirakan cukup besar yakni kurang lebih dari 13 juta riyal arab Saudi. Pintu ka’bah ini telah banyak mengalami perubahan yang mencakup bentuknya maupun bahan baku pembuatannya. Untuk pintu yang saat ini ialah hadiah dari Khalid bin Abdul Aziz yakni Raja Saudi pada zamannya.

  1. Syazarawan

Bagi Sahabat Haji Plus mungkin agak asing mendengar bagian Ka’bah yang satu ini. Syazarawan adalah bagian ka’bah yang berbentuk melengkung mengelilingi bagian bawah ka’bah sepanjang area tawaf kecuali Al-hathim. Syazarawan ini adalah tembok yang sangat kuat dengan berbahan dasar batu marmer dibuat untuk melindungi ka’bah dari banjir dan demi menjaga keselamatan jamaah dan juga selimut ka’bah dari kerumunan banyak orang. Meskipun bagian ini jarang dikenal, akan tetapi keberadaannya sangat penting bagi Ka’bah.

  1. Multazam

Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa Multazam berada diantara hajar aswad dan pintu ka’bah dengan jarak kurang lebih 2 meter. Multazam ini merupakan tempat yang dipercaya paling mustajab untuk berdoa. Sebagaimana sabda Rasulullah saw ialah multazam tempat berdoa mustajab, tidak seorangpun dari hamba Allah yang berdoa ditempat ini tanpa terkabul permintaannya. Saat Sahabat Haji Plus berada di Multazam disunnahkan berdoa sambil menempelkan kedua tangan, dada, serta pipi ke multazam. Tentunya yang paling penting ialah niat tulus Sahabat Haji Plus dalam berdoa dan beribadah selama di tanah suci.

Baca Artikel Lainnya :  Biaya Haji dari di Bandung

Memahami Nafar dalam Pelaksanaan Ibadah Haji

Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa nafar jika dipahami secara bahasa ialah memiliki arti rombongan. Firman Arifandi dalam bukunya “Perihal Penting Haji yang Sering Ditanyakan” mengatakan, secara konteks istilahnya, dimaksudkan dengan nafar awal adalah rombongan keberangkatan yang akan meninggalkan mina lebih awal yakni sebelum senja 12 Dzulhijjah berakhir. “Sementara nafar tsani adalah mereka yang masih ingin stay sehari lagi di Mina hingga 13 Dzulhijjah dan kembali melakukan jumrah,” tulisnya. Seperti yang terdapat dalam firman Allah Swt jika dasar hukum atau ketentuan dibolehkan pulang lebih awal untuk nafar awal itu sudah sesuai firman Allah salam surah Al Baqarah ayat 203 yang artinya : “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. ”

Terdapat beberapa kesimpulan dari para ulama terkait nafar awal dan tsani ini, yakni:

  • Nafar Awal tak diperkenankan untuk menetap di Mina melebihi sore hari atau akhir 12 Karena, jika sampai maghrib Sahabat Haji Plus masih berada di sana yang di mana berarti masuk tanggal 13. Maka, harus lanjut menetap kembali melanjutkan nafar tsani.
  • Melakukan Nafar awal jika memang terdapat keperluan yang mendesak atau memang sudah merasa tak mampu lagi untuk melanjutkan hingga tanggal 13
  • Bagi yang melakukan Nafar awal ataupun tsani, keduanya tak memilki hubungannya dengan keshalihan dan kemabruran haji. Apabila nafar telah diketahui dan dimengerti, maka tugas Sahabat Haji Plus sebaga jemaah haji ialah menjalankan ibadah haji yang sesuai dengan syari’at Islam agar menjadi haji yang mabrur.

Itulah sekilas informasi teruntuk Sahabat Haji Plus Sekalian. Bagi Sahabat Haji Plus yang bertanya – tanya terkait Travel Penyelenggara Haji Khusus sudah terjawab semua kan? Nah, kini saatnya Sahabat haji Plus mempersiapkan dengan matang terkait perencanaan untuk melaksanakan ibadah haji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *