Haji Tanpa Antri Bogor

Haji Tanpa Antri Bogor

Dengan meningkatnya minat untuk melaksanakan ibadah haji membuat haji di Indonesia memiliki waktu tunggu keberangkatan yang cukup lama. Haji yang diselenggarakan pemerintah ini merupakan program Haji Reguler yang memiliki waktu tunggu keberangkatan hingga 20 tahun. Namun, saat ini hadir pula program haji yang menawarkan waktu tunggu keberangkatan yang lebih cepat dibandingkan dengan Haji Reguler. Program haji ini ialah Haji Furoda. Karena waktu tunggu keberangkatannya lebih cepat dari Haji Reguler, maka tentunya program Haji Furoda memiliki perbedaan dalam segi biaya. Biaya Haji Furoda dibandrol dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan Haji Reguler. Untuk Sahabat Haji Plus yang ingin melaksanakan ibadah haji namun enggan untuk menunggu waktu tunggu yang lama, terdapat program haji yang lebih cepat waktu keberangkatannya daripada Haji Reguler. Haji Furoda merupakan ibadah haji yang dilakukan dengan waktu tunggu keberangkatan paling cepat. Hal ini dikarenakan Haji Furoda merupakan program Haji yang berangkat tanpa antri. Sehingga Haji Furoda ini merupakan rekomendasi yang tepat bagi Sahabat Haji Plus yang ingin melaksanakan Haji tanpa antri. Untuk Sahabat Haji Plus yang berada di seluruh wilayan Indonesia dan ingin mendaftar Haji Tanpa Antri Bogor, Jakarta dan wilayah lainnya dan sedang mencari jasa travel untuk menunaikan ibadah haji, tak perlu risau. Karena Travel Haji Furoda yang terbaik telah hadir untuk Sahabat Haji Plus, yakni di Annur Maarif. Apabila Sahabat Haji Plus berminat untuk mendaftarkan diri, Sahabat Haji Plus dapat menghubungi kontak yang tertera di website resmi. Teruntuk Sahabat Haji Plus yang ingin mendapatkan informasi lebih lengkap seputar Haji Furoda Jakarta dan seputar ibadah haji, coba simak informasi berikut ini.

Coba Aneka Kuliner Saat di Tanah Suci Yuk!

Pada saat melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci, tentunya dapat dengan mudah ditemui aneka ragam jenis makanan khas Tanah Suci yang dapat Sahabat Haji Plus coba. Tentunya cita rasa masakan di Tanah Suci berbeda dengan di Tanah Air. Apa saja kuiner yang dapat Sahabat Haji Plus coba saat di tanah suci? Berikut lebih jelasnya.

  1. Nasi Briyani

Saat berada di Tanah Suci, Sahabat Haji Plus dapat cobain nih kuliner khasnya yakni Nasi Briyani. Nasi Biryani merupakan salah satu  makanan berat yang dapat Sahabat Haji Plus coba sewaktu di Tanah Suci nanti. Nasi Briyani ini menjadi makanan yang dapat mengganjal perut Sahabat Haji Plus saat sedang melaksanakan ibadah haji. Pada umumnya nasi ini dimasak bersama rempah, daging, dan sayuran. Rempah-rempah yang digunakan saat memasak biryani adalah minyak samin, jintan, kacang-kacangan, kapulaga, cengkih, daun salam koja, kayu manis, daun mint, ketumbar, bawang Bombay, jahe, dan bawang putih. Bedanya dengan Nasi Mandy adalah Nasi Biryani memiliki aroma dan rasa yang lebih kuat dan pekat. Biasanya Nasi Briyani disajikan dengan sayuran, daging domba atau kambing panggang. Pada dasarnya Nasi Briyani berbeda dengan Pullao (nasi bumbu) dari segi memasaknya, ketika memasak Pullao, maka beras digoreng dengan rempah-rempah ke dalam minyak samin, kemudian dimasak sampai matang. Hidangan sampingan untuk menyantap Nasi Briyani adalah kurma, kari, hingga telur rebus. Wah, terlihat sangat lezat ya.

  1. Nasi Mandy

Selain nasi briyani ada pula nasi mandy. Nasi mandy juga menjadi salah satu masakan yang paling populer di Arab Saudi. Nasi mandy terbuaat dari beras basmati yang memiliki tekstur yang pulen dan memiliki bulir yang panjang. Untuk membuatnya menjadi makanan yang lezat, beras basmati ini harus dimasak dengan berbagai bumbu maupun rempah khas arab seperti adas, jintan, saffron, lada hitam serta kayu manis. Nasi mandy ini akan disajikan dengan paduan berbagai pelengkap seperti daging domba panggang ataupun daging ayam. Karena porsinya yang terbilang cukup besar, Nasi mandy ini biasanya dimakan secara bersama – sama.

  1. Kunafa

Kunafa merupakan termasuk ke dalam salah satu dessert yang sudah sangat terkenal di Mekkah, Turki, Lebanon amupun Mesir. Makanan yang satu ini terbuat dari phillo pastry, kemudian dipotong tipis-tipis dan disiram dengan sirup gula. Pada umumnya Kunafa ini disajikan dengan isian kelapa parut, kismis, krim, dan kacang-kacangan. Beberapa varian Kunafa juga disajikan bersama keju mozarella hingga tambahan kayu manis. Keunikan dari makanan ini adalah sirup gula yang ada di dalam Kunafa ternyata dicampur dengan air mawar yang tentunya akan membuat aroma khas dari dessert ini. Bagaimana nih Sahabat Haji Plus? tertarik untuk mencobanya?

  1. Hummus

Tak bisa dipungkiri bahwasannya Arab Saudi memang mempunyai banyak sajian makanan yang berbahan dasar roti, seperti halnya Hummus. Namun sebenarnya Hummus merujuk kepada saus kacang yang bahan dasarnya terbuat dari tahini (wijen giling), kedelai, bawang putih, lentini, air lemon, minyak zaitun, dan garam. Agar sajian ini terlihat menarik, Hummus diberi tortilla, irisan tomat, dan chickpea yang ditata di bagian tengah. Setelah itu, siap disajikan dan disantap dengan roti tradisional berbentuk pita (disebut juga dengan lafa). Cara menikmati makanan ini adalah dengan menyobek roti, kemudian mencocol-cocolkannya pada Hummus. Tidak hanya Hummus, saus ini pun bisa dimakan dengan kentang.

  1. Samboosa

Selanjutnya ialah samboosa. Mungkin jenis yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi Sahabat Haji Plus sekalian. Makanan dari Timur Tengah memang terkenal menyehatkan dan bergizi untuk tubuh, begitu juga dengan Samboosa. Sehingga tidaklah mengherankan jika makanan yang satu ini memiliki daya tarik tersendiri di kalangan pencinta kuliner. Samboosa sendiri terbuat dari kulit pastry yang krispy dan gurih. Di bagian dalamnya berisi daging sapi, ayam, atau kambing cincang yang dapat dipanggang atau digoreng, keju, telur, dan aneka sayuran seperti kentang, buncis, dan wortel. Samboosa sangat cocok disantap dengan Shorbah Adas, yaitu sup kacang lentil. Biasanya Samboosa disantap sebagai penambah selera atau bisa juga dijadikan sebagai teman minum teh klasik masyarakat Arab. Jika Sahabat Haji Plus sudah berada di Tanah Suci, jangan lewatkan kuliner yang satu ini yaa.

  1. Baleela

Bagi Sahabat Haji Plus yang sangat suka dengan makanan pedas, tentunya Balila atau Baleela dapat dimasukkan ke dalam list makanan yang wajib dicicipi saat berkunjung ke Arab Saudi. Makanan ini berbahan buncis rebus yang dicampur dengan bawang putih dan garam. Rasanya pun tidak kalah lezat dengan kuliner khas Arab lainnya, terlebih lagi makanan ini sangat mudah didapat di Arab Saudi. Sahabat Haji Plus dapat membelinya di kios-kios yang ada di sekitar Qabel Street. Gimana? menarik sekali bukan?

  1. Luqaimat

Di kalangan masyarakat Arab, makanan ini terkenal sebagai hidangan penutup. Berbentuk bulat dan memiliki tekstur renyah di bagian luarnya, namun sangat lembut di bagian tengahnya. Makanan ini pun memiliki cita rasa yang manis dan lezat. Luqaimat biasanya sangat ditunggu-tunggu saat tibanya bulan ramadhan. Jika di Indonesia makanan ini mungkin dikenal dengan donat, walaupun bentuk maupun tekstur rasanya berbeda. Penasaran? Coba aja saat Sahabat Haji Plus di Tanah Suci nanti.

  1. Falafel

Selanjutnya ialah ada Jajanan yang bernama falafel. Falafel  ini merupakan salah satu jajanan paling populer yang berada di Arab. Makanan ini termasuk sebagai jenis jajanan dikarenakan memiliki bentuk yang kecil dan bisa dengan mudah dimakan, bahkan sambil beraktifitas sekalipun. Falafel terbuat dari kacang faca yang memiliki rasa gurih dan pedas. Bahan utama ini digiling kemudian dipadatkan dan dibentuk menjadi bola-bola kecil. Falafel kemudian dimasak dengan cara digoreng dalam minyak panas, dengan begitu tekstur yang dimilikinya renyah. Falafel biasanya disajikan dan disantap dengan topping seperti sayuran, salad, acar, roti pita, dan berbagai saus khas. Karena banyaknya penjual Falafel di Arab, maka bisa dikatakan bahwa makanan ini adalah salah satu jajanan pinggir jalan di negeri Arab. Bahkan karena kenikmatannya makanan ini telah menjadi makanan favorit banyak orang di Arab. Saat Sahabat Haji Plus ke tanah suci, maka jangan lupa untuk mencoba Falafel ya..

Baca Artikel Lainnya :  Harga Haji Khusus Surabaya

Apa Saja Yang Dilakukan Saat Puncak Haji?

Dalam Ibadah haji terdapat serangkaian kegiatan yang dilakukan dan tentunya terdapat amalan – amalan yang hendaknya dilakukan selama proses ibadah haji. Apa saja rangkaian kegiatan yang dilakukan? Berikut lebih jelasnya.

Tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah)

  1. Pada waktu Dhuha, jamaah haji berihram dari tempat tinggalnya dengan niat akan melaksanakan ibadah haji, ini bagi yang berniat haji tamattu’. Sedangkan bagi yang berniat haji ifrad dan qiron, ia tetap berihram dari awal.
  2. Setelah berihram, wajib menjauhi segala larangan ihram.
  3. Memperbanyak talbiyah.
  4. Bertolak menuju Mina sambil bertalbiyah.
  5. Melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh di Mina. Shalat-shalat tersebut dikerjakan di waktunya masing-masing (tanpa dijamak) dan shalat empat raka’at (Zhuhur, Ashar dan Maghrib) diqoshor.
  6. Mabit (bermalam) di Mina dan hukumnya sunnah.
  7. Memperbanyak dzikir kala itu seperti dzikir pagi dan petang, juga dzikir lainnya.

Tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah)

  1. Sesudah shalat Shubuh di Mina dan setelah matahari terbit, bertolak menuju Arafah sambil bertalbiyah dan bertakbir.
  2. Pada hari Arafah, yang disunnahkan bagi jama’ah haji adalah tidak berpuasa sebagaimana contoh dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Jika memungkinkan, sebelum wukuf di Arafah, turun sebentar di masjid Namirah hingga masuk waktu Zhuhur.
  4. Jika memungkinkan, mendengarkan khutbah di masjid Namirah, lalu mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan jamak taqdim dan diqashar dengan satu adzan dan dua iqamah.
  5. Setelah shalat Zhuhur, memasuki padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.
  6. Ketika wukuf, berupaya semaksimal mungkin untuk berkonsentrasi dalam do’a, dzikir dan merendahkan diri kepada Allah.
  7. Menghadap ke arah kiblat ketika berdo’a sambil mengangkat kedua tangan dengan penuh kekhusyu’an.
  8. Saat wukuf, memperbanyak bacaan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir” dan bacaan shalawat.
  9. Tidak keluar meninggalkan Arafah kecuali setelah matahari tenggelam.
  10. Setelah matahari terbenam, bertolak menuju Muzdalifah dengan penuh ketenangan.
  11. Sampai di Muzdalifah, lakukan terlebih dahulu shalat Maghrib dan Isya’ dengan dijamak dan diqashar (shalat Maghrib 3 rakaat, sedangkan shalat Isya’ 2 raka’at) dengan satu adzan dan dua iqamah.
  12. Mabit di Muzdalifah dilakukan hingga terbit fajar. Adapun bagi kaum lemah dan para wanita dibolehkan untuk berangkat ke Mina setelah pertengahan malam.
Baca Artikel Lainnya :  Haji Furoda Sesuai Sunnah di Jakarta dan Surabaya

Tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahr atau Idul Adha)

  1. Para jamaah haji harus shalat Shubuh di Muzdalifah, kecuali kaum lemah dan para wanita yang telah bertolak dari Muzdalifah setelah pertengahan malam.
  2. Setelah shalat Shubuh, menghadap ke arah kiblat, memuji Allah, bertakbir, bertahlil, serta berdo’a kepada Allah hingga langit kelihatan terang benderang.
  3. Berangkat menuju Mina sebelum matahari terbit dengan penuh ketenangan sambil bertalbiyah/ bertakbir.
  4. Ketika tiba di lembah Muhasir, langkah dipercepat bila memungkinkan.
  5. Menyiapkan batu untuk melempar jumroh yang diambil dari Muzdalifah atau dari Mina.
  6. Melempar jumroh ‘aqobah dengan tujuh batu kecil sambil membaca “Allahu Akbar” pada setiap lemparan.
  7. Setelah melempar jumroh ‘Aqobah berhenti bertalbiyah.
  8. Bagi yang berhaji tamattu’ dan qiran, menyembelih hadyu setelah itu. Yang tidak mampu menyembelih hadyu, maka diwajibkan berpuasa selama 10 hari: 3 hari pada masa haji dan 7 hari setelah kembali ke kampung halaman. Puasa pada tiga hari saat masa haji boleh dilakukan pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
  9. Mencukur rambut atau memendekkannya. Namun mencukur (gundul) itu lebih utama. Bagi wanita, cukup menggunting rambutnya sepanjang satu ruas jari.
  10. Jika telah melempar jumroh dan mencukur rambut, maka berarti telah tahallul awwal. Ketika itu, halal segala larangan ihram kecuali yang berkaitan dengan wanita. Setelah tahallul awwal boleh memakai pakaian bebas.
  11. Menuju Makkah dan melaksanakan thawaf ifadhoh.
  12. Melaksanakan sa’i haji antara Shafa dan Marwah bagi haji tamattu’ dan bagi haji qiron dan ifrod yang belum melaksanakan sa’i haji. Namun jika sa’i haji telah dilaksanakan setelah thawaf qudum, maka tidak perlu lagi melakukan sa’i setelah thawaf ifadhoh.
  13. Dengan selesai thawaf ifadhoh berarti telah bertahallul secara sempurna (tahalluts tsani) dan dibolehkan melaksanakan segala larangan ihram termasuk jima’ (hubungan intim dengan istri).

Tanggal 11 Dzulhijjah (Hari Tasyrik)

  1. Mabit di Mina pada sebagian besar malam.
  2. Menjaga shalat lima waktu dengan diqashar (bagi shalat yang empat raka’at) dan dikerjakan di waktunya masing-masing (tanpa dijamak).
  3. Memperbanyak takbir pada setiap kondisi dan waktu.
  4. Melempar jumroh yang tiga setelah matahari tergelincir, mulai dari jumroh ula (shugro), jumroh wustho, dan jumroh kubro (aqobah).
  5. Melempar setiap jumroh dengan tujuh batu kecil sambil membaca “Allahu Akbar” pada setiap lemparan.
  6. Termasuk yang disunnahkan ketika melempar adalah menjadikan posisi Makkah berada di sebelah kiri dan Mina di sebelah kanan.
  7. Setelah melempar jumroh ula dan wustho disunnahkan untuk berdoa dengan menghadap ke arah kiblat. Namun, setelah melempar jumroh aqobah tidak disunnahkan untuk berdo’a.
  8. Mabit di Mina.
Baca Artikel Lainnya :  Haji Mujamalah

Tanggal 12 Dzulhijjah (Hari Tasyrik)

  1. Melakukan amalan seperti hari ke-11.
  2. Jika selesai melempar ketiga jumroh lalu ingin pulang ke negerinya, maka dibolehkan, namun harus keluar Mina sebelum matahari tenggelam. Kemudian setelah itu melakukan thawaf wada’. Keluar dari Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah disebut nafar awwal.
  3. Bagi yang ingin menetap sampai tanggal 13 Dzulhijjah, berarti di malamnya ia melakukan mabit seperti hari sebelumnya.
  4. Tanggal 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik)
  5. Melakukan amalan seperti hari ke-11 dan ke-12.
  6. Setelah melempar jumroh sesudah matahari tergelincir, kemudian bertolak meninggalkan Mina. Ini dinamakan nafar tsani.
  7. Jika hendak kembali ke negeri asal, maka lakukanlah thawaf wada’ untuk meninggalkan Baitullah. Bagi wanita haidh dan nifas, mereka diberi keringanan tidak melakukan thawaf wada’. Thawaf wada’ adalah manasik terakhir setelah manasik lainnya selesai. (Sebagian besar diambil dari Meneladani Manasik Haji dan Umrah, 131-144)

Yuk Ketahui Fakta Uniknya Ka’bah di Tanah Suci!

Sahabat Haji Plus tentu telah mengerti bahwa ka’bah merupakan tempat paling suci dari semua situs islam di dunia. Posisi ka’bah yang menjadi kiblat mengharuskan umat islam diseluruh dunia menghadap ka’bah saat menunaikan sholat. Apa saja fakta unik terkait ka’bah? Yuk simak informasi dibawah ini.

  1. Warna Kiswah Ka’bah Tak Selalu Hitam

Sahabat Haji Plus tentunya telah mengerti bahwa Kiswah adalah kain hitam yang menutupi Ka’bah. Tapi, tahukah Sahabat Haji Plus sekalian bahwa kain pelindung bangunan suci itu tidak selalu berwarna hitam seperti yang biasa disaksikan sekarang? Tradisi menutupi Ka’bah dengan kiswah dimulai pada masa pemerintahan Bani Jurhum (salah satu suku tertua di Arab). Kemudian, Nabi Muhammad SAW melapisi Ka’bah dengan kain putih dari Yaman. Sepeninggal Rasulullah SAW, kiswah yang digunakan pada masa pemerintahan para khalifah Islam cukup variatif warnanya. Di antaranya adalah kiswah merah, hijau, dan putih. Pemerintah Dinasti Abbasiyah akhirnya memutuskan warna hitam untuk mengakhiri perubahan warna kiswah yang terlalu sering itu. Sejak itulah, kiswah hitam terus digunakan untuk menutupi Ka’bah sampai sekarang.

  1. Bentuk Ka’bah Telah Berubah

Pada mulanya Ka’bah awalnya berbentuk huruf latin D kapital, sesuai dengan fondasi yang diletakkan oleh Nabi Ibrahim AS. Setelah berabad-abad berikutnya, desain bangunan suci itu berubah menjadi bentuk kubus saat dibangun ulang oleh suku Quraisy, sebelum datangnya risalah Islam yang dibawakan Rasulullah SAW. Perubahan bentuk Ka’bah pada masa itu terjadi karena orang-orang Quraisy tidak mampu membangun kembali keseluruhan struktur bangunannya karena kekurangan dana. Ruang yang ditinggalkan disebut Hatim sekarang-ditandai dengan dinding kecil.

  1. Ka’bah Dahulu Memiliki Lebih Dari Satu Pintu

Pada mulanya, Ka’bah memiliki dua pintu. Yang satu digunakan sebagai pintu masuk, sedangkan yang lainnya adalah pintu keluar. Tak hanya itu, Ka’bah dulu juga mempunyai jendela pada salah satu dindingnya. Ka’bah yang kita saksikan sekarang hanya memiliki satu pintu dan tanpa jendela, meskipun ada pintu lainnya yang terdapat di dalam bangunan itu—yang digunakan sebagai akses menuju atap.

  1. Telah Direkonstruksi Berulang Kali

Tahukah Sahabat Haji Plus sekalian bahwa Ka’bah pernah mengalami kerusakan akibat bencana alam seperti banjir dan faktor-faktor lainnya sehingga membuatnya dibangun ulang beberapa kali. Kebanyakan sejarawan mengklaim bahwa Ka’bah telah direkonstruksi sekitar 12 kali. Renovasi terakhir terjadi pada 1996 dengan menggunakan teknologi terbaru untuk memperkuat bangunan tersebut dari bencana. Menurut keyakinan Islam, ada beberapa nabi yang turut berpartisipasi dalam pembangunan Ka’bah. Mereka adalah Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Nabi Muhammad SAW. Luar biasa kan?

Inilah sekilas informasi terkait Haji Tanpa Antri Bogor dan informasi lengkap seputar ibadah haji. Bagi Sahabat Haji Plus yang berkeinginan untuk mendaftar Haji Furoda dalam waktu dekat, semangat ya! Semoga di tahun ini Sahabat Haji Plus dapat menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *