Haji Plus Tanpa Antri

Haji Plus Tanpa Antri

Haji Plus Tanpa Antri

Saat Sahabat Haji Plus berada dalam antrian yang cuku Panjang dengan durasi yang cuku lama, tentunya amat membosankan bukan? Hal inilah yang saat ini sedang dirasakan oleh jamaah haji yangs edang menunggu waktu tunggu keberangkatan gilirannya. Untuk menunggu waktu tunggu keberangkatannya tak tanggung  tanggung, mulai dari belasan tahun hingga puluhan tahun. Maka tak heran apabila banyak yang resah dan rasanya tak sabar menanti akibat waktu tunggu keberangkatan yang sangat lama. Perasaan resah dan dilema juga kerap hadir bagi Sahabat Haji Plus yang ingin menunaikan ibadah haji, akan tetapi enggan untuk menunggu waktu tunggu keberangkatan yang lama. Teruntuk Sahabat Haji Plus sekalian, hendaknya tak perlu resah dan dilemma perihal waktu tunggu keberangkatan ibadah haji. Karena Sahabat Haji Plus dapat memilih program pelaksanaan haji tanpa menunggu waktu tunggu keberangkatan. Sahabat Haji Plus hendaknya mengetahui bahwa program Haji Furoda merupakan program paket haji yang memberikan keistimewaan yakni tanpa antri. Sahabat Haji Plus dapat mendaftar Haji Furoda ini di Travel Haji Furoda yang telah terpercaya dan berpengalaman di bidangnya, salah satunya Annur Maarif Travel. Untuk Biaya Haji Furoda pun harganya juga sepadan dengan segala fasilitas serta akomodasi yang disuguhkan. Sehingga Sahabat Haji Plus tak perlu kecewa perihal Program Haji Furoda yang disebut juga sebagai Haji plus tanpa antri. Untuk Sahabat Haji Plus yang ingin menyimak informasi lebih lanjut, yuk simak informasi di bawah ini.

Pelaksanaan Ibadah Sa’i

Sahabat Haji Plus tentunya memahami bahwa salah satu rukun Islam adalah wajib haji bagi yang mampu. Salah satu di antara rangkaian ibadah haji terdapat kegiatan yang namanya lari kecil atau Sa’i. Aktivitas ibadah Sa’i ini merupakan perjalanan dari bukit Shafa ke bukit Marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali. Bagi Sahabat Haji Plus yang hendak melakukan sa’i sebaiknya memulai dengan langkah – langkah biasa, sampai dekat dengan tanda pertama berwarna hijau, kira-kira sejauh enam hasta. Dari lokasi tersebut, hendaknya jamaah haji mempercepat langkah atau berlari – lari kecil sehingga sampai di tanda hijau yang kedua, kemudian dari sana berjalan kembali dengan langkah – langkah biasa. Apabila telah sampai di bukit Marwah, hendaknya Sahabat Haji Plus menaiki bukit Marwah seperti yang dilakukan ketika di bukit Shafa. Setelah itu menghadap ke arah Shafa dan berdoa seperti sebelumnya. Dengan demikian, jamaah haji telah selesai melakukan satu kali lintasan sa’i. Apabila telah kembali lagi ke bukit Shafa, maka dihitung dua kali. Begitulah selanjutnya sampai tujuh kali lintasan. Dengan selesainya tujuh kali lintasan itu, maka jamaah haji telah menyelesaikan dua hal, yaitu thawaf qudum dan sa’i. Akan tetapi, jika jamaah haji memulai sa’Inya dari Marwah, sa’I dianggap sah akan tetapi harus menambah satu perjalanan lagi sehingga berakhir di Marwah. Walaupun sa’i adalah berlari kecil antara dua bukit tersebut, namun jika jamaah haji dalam kondisi sakit maka diizinkan untuk menggunakan kursi roda. Adapun persyaratan bersuci dari hadats besar maupun kecil ketika mengerjakan sa’I, hukumnya mustahab (dianjurkan) dan bukan wajib seperti dalam mengerjakan thawaf. Menurut sejarah, rangkaian kegiatan sa’I ini merupakan napak tilas dari upaya yang dilakukan ibu dari Nabi Ismail yang mencari air untuk menghilangkan kehausan Nabi Ismail.

Perlengkapan Sepele, Namun Penting Saat Ibadah Haji

Sahabat Haji Plus tentunya memahami bahwa persiapan yang dilakukan untuk perbekalan ibadah haji menjadi sesuatu yang hendaknya dipersiapkan secara matang. Persiapan yang hendaknya dilakukan meliputi perbekalan yang besar yakni mulai dari koper haji, baju ganti, tas pinggang dan lain – lain hingga perbekalan yang tergolong kecil. Tak dapat dipungkiri bahwasannya Sahabat Haji Plus seringkali melewatkan persiapan yang berkaitan dengan perlengkapan yang ukurannya kecil. Hal ini dikarenakan Sahabat Haji Plus terlalu fokus pada bekal yang terlihat oleh mata atau yang dianggap lebih diperlukan. Padahal, perlengkapan yang tergolong peralatan kecil meskipun kecil tapi terhitung penting juga bukan? Berikut adalah beberapa peralatan yang tergolong kecil , akan tetapi penting untuk dibawa pada saat melaksanakan ibadah haji.

  1. Gunting Kuku

Tak ada salahnya bagi Sahabat Haji Plus yang hendak melaksanakan ibadah haji untuk membawa gunting kuku. Gunting kuku ini bakal bermanfaat untuk Sahabat Haji Plus sekalian yang mungkin lupa memotong kuku pada saat melakukan keberangkatan ibadah haji. Karena seperti yang diketahui bahwa bagi Sahabat Haji Plus yang akan melaksanakan ibadah haji hendaknya dalam keadaan yang bersih, termasuk bagian kuku yakni pastikan bersih dan rapi. Oleh karena itulah, hendaknya Sahabat Haji Plus berjaga – jaga membawa gunting kuku.

  1. Gunting Kecil

Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa gunting kecil merupakan salah satu perlengkapan yang sangat berguna ketika Sahabat Haji Plus tahalul yakni menggunting rambut setelah selesai pelaksanaan sa’i. Sahabat Haji Plus hendaknya membawa membawa sendiri gunting dari rumah. Hal ini dikarenakan agar Sahabat Haji Plus tak perlu menunggu gantian dengan meminjam kepada jamaah haji yang lain karena pasti membutuhkan waktu yang cukup lama. Tips bagi Sahabat Haji Plus yang hendak membawa gunting kecil ialah caranya masukkan ke dalam koper bagasi bukannya kabin. Karena apabila gunting berada di dalam kabin, tentunya  terkena sensor detektor logam di bandara dan disita pihak imigrasi. 

  1. Cukuran Jenggot

Bagi kaum adam tentunya peralatan yang satu ini terbilang sangat penting yakni membawa cukuran jenggot. Terlebih bagi kaum Adam yang mempunyai jenggot serta kumis yang cukup lebat. Peralatan kecil yang satu ini hendaknya tak terlewatkan, karena terbilang sangat penting dan akan menjadi penyelamat saat hendak terlihat lebih rapi.

  1. Obat – obat Pribadi

Perlu diketahui bahwasannya obat pribadi sangat diperlukan bagi Sahabat Haji Plus. Hal ini tentunya untuk mengantisipasi pada saat Sahabat Haji Plus tiba – tiba mengalami sakit tertentu seperti pusing atau yang lainnya. Contoh beberapa obat – obatan yang dapat Sahabat Haji Plus bawa ialah obat flu, obat sakit kepala dan masuk angin ini sangat dibutuhkan sekali untuk jamaah haji. Karena cuaca dan suhu di Tanah Suci yang berbeda dengan Indonesia terkadang membuat Sahabat Haji Plus sulit beradaptasi dan membuat penyakit – penyakit ringan datang menghampiri. Bawa obat – obat pribadi tertentu yang biasa dikonsumsi jika Sahabat Haji Plus menderita flu, sakit kepala, masuk angin atau penyakit ringan lainnya.

  1. Tali Tambang

Mungkin Sahabat Haji Plus bertanya – tanya terkait mengapa perlu membawa tali tambang. tali tambang ini tentunya perlu dibawa karena ada kegunaannya. Perlu diketahui bahwa banyak sekali kegunaan tali tambang ini. Sahabat Haji Plus dapat menggunakannya untuk menjemur pakaian. Hal ini dikarenakan tak semua maktab atau tempat pemondokan haji menyediakan jemuran bagi para jamaah haji. Tak hanya itu saja, tali ini juga dapat difungsikan sebagai mengikat koper pada saat hendak pulang ke tanah air. Pasalnya, sudah jadi kebiasaan jika koper haji yang memiliki ukuran yang sangat besar itu dipastikan akan semakin tebal pada saat pulang. Tak lain tak bukan ialah karena berisi oleh – oleh yang diperuntukkan bagi keluarga dan kerabat dekat

Baca Artikel Lainnya :  Haji Tanpa Antri Jakarta

Serba – Serbi Ka’bah di Tanah Suci

Sahabat Haji Plus perlu mengetahu bahwasannya Ka’bah yang berada di Tanah Suci terdapat fakta unik yang menyertai. Tentunya, ini akan menjadi informasi tambahan bagi Sahabat Haji Plus sekalian yang hendak pergi ke Tanah Suci. Sudah tahukah Sahabat Haji Plus terkait fakta unik yang berada di Tanah Suci? Jika belum mengetahui, yuk simak informasi berikut ini.

  1. Warna Kiswah Mengalami Perubahan

Seperti yang diketahui saat ini bahwa kiswah merupakan kain tirai berwarna hitam yang menutupi Kabah. Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa warna kiswah ternyata tak selalu berwarna hitam seperti yang selama ini Sahabat Haji Plus lihat. Tradisi menutupi Kabah dengan kiswah bermula selama pemerintahan suku Jurhum. Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW menyelimuti Kabah dengan kain putih. Merah, hijau, dan putih merupakan beberapa warna yang pernah digunakan oleh khalifah berbeda untuk kiswah. Dinasti Abbasiyah akhirnya memutuskan kiswah berwarna hitam untuk mengakhiri seringnya perubahan warna. Itulah satu-satunya warna yang digunakan sejak saat itu hingga sekarang. Wah, ternyata begitu ya..

  1. Bentuk Ka’bah Telah Berubah

Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa Ka’bah pada mulanya berbentuk sesuai dengan dasar-dasar yang diletakkan oleh Nabi Ibrahim. Awalnya berbentuk huruf latin D kapital, sesuai dengan pondasi yang diletakkan oleh Nabi Ibrahim AS. Setelah berabad-abad berikutnya, desain bangunan Ka’bah ini berubah menjadi bentuk kubus saat dibangun ulang oleh suku Quraisy, sebelum datangnya risalah Islam yang dibawakan Rasulullah SAW. Perubahan bentuk pada masa itu terjadi dikarenakan orang-orang suku Quraisy tak mampu membangun kembali keseluruhan struktur bangunannya. Hal tersebut diketahui karena kekurangan dana. Ruang yang ditinggalkan tersebut disebut Hatim yang ditandai dengan dinding – dinding kecil.

  1. Pembersihan Dilakukan 2 Kali Setahun

Pembersihan Ka’bah diketahui dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun. Pembersihan Ka’bah ini dilakukan pada Bulan Sya’ban dan Zulqa’dah. Pembersihan ini seluruhnya menjadi tanggung jawab keluarga asy-Syaibi. Dalam melaksanakan pembersihan Ka’bah, terdapat pembersih khusus yang terbuat dari air mawar Taif, air zam – zam dan minyak gaharu yang sangat mahal harganya. Gubernur Mekkah biasanya mengundang beberapa pejabat untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan pembersihan Ka’bah.

  1. Memiliki Lebih Dari Satu Pintu

Menurut sejarah, pada awalnya bangunan Ka’bah ini memiliki dua pintu. Kegunaannya ialah satu pintu digunakan sebagai pintu masuk, sedangkan satu pintu berikutnya sebagai pintu keluar. Tak hanya itu saja, bangunan Ka’bah ini pada jaman dahulu juga terdapat jendela pada salah satu dindingnya. Bangunan Ka’bah yang Sahabat Haji Plus saksikan sekarang hanya memiliki satu pintu dan tanpa jendela, meskipun ada pintu lainnya yang terdapat di dalam bangunan itu yang digunakan sebagai akses menuju atap. Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa pada mulanya pintu Ka’bah ini terbuka untuk semua orang yang ingin masuk dan berdoa di dalam. Akan tetapi, karena jumlah jamaah mengalami peningkatan yang cukup pesat, akhirnya akses masuk ke dalam Ka’bah tak lagi bebas untuk semua orang. Akan tetapi, pintu dibuka untuk tamu khusus yakni tamu istimewa.

Baca Artikel Lainnya :  Daftar Haji Furoda

Tiga Pesan Penting Mengenai Kain Ihram Menurut Ibnu Abbas

Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat yang dijuluki “lautan ilmu”, serta sosok yang dapat dikatakan mengenal Nabi Muhammad Saw dengan baik, memiliki “renungan” tersendiri perihal pakaian ihram. Imam Abu Bakr al-Bakri dalam Hasyiyah I’anatut Thalibin mengutip dari ar-Raudl al-Faiq, menyatakankan bahwa suatu kali Ibnu Abbas pernah ditanya terkait hikmah dari beberapa pelaksanaan dalam ibadah haji. Beliau lalu menyatakan bahwa “Tak ada sedikitpun dari beberapa perilaku haji serta yang berkaitan dengannya, kecuali di dalamnya ada hikmah mendalam, nikmat yang lengkap serta cerita, sesuatu dan rahasia yang tiap mulut akan kesulitan dalam menjelaskannya”. Lalu Ibnu Abbas mengungkapkan tiga hal berkaitan pakaian ihram :

  1. Memakai ihram seakan suci seperti bayi baru lahir

Sahabat Haji Plus perlu mengetahui bahwasannya memakai ihram memberikan makna menanggalkan segala sesuatu ketika ihram. Hal ini menunjukkan bahwa Sahabat Haji Plus akan menanggalkan diri dari harta benda duniawi. Layaknya bayi yang keluar dari rahim ibunya tanpa memakai sehelaipun pakaian. Hal ini menyiratkan bahwa memakai pakaian ihram merupakan bentuk perilaku pemakainya dalam melepas hal – hal berbau duniawi. Di tubuhnya tak ada sesuatu kecuali hal – hal yang digunakan untuk menutup aurat.

  1. Memakai ihram seakan dihisab nantinya

Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa keadaan memakai pakaian ihram tersebut menyerupai keadaan saat nanti Sahabat Haji Plus hadir di tempat kelak Sahabat Haji Plus dihisab oleh Allah. Seperti firman Allah berikut: “Dan Sesungguhnya kamu datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu kami ciptakan pada mulanya,” (Al-An’am ayat 94). 

  1. Menyesuaikan Pakaian Saat Bertamu

Tak bisa dipungkiri bahwa kebiasaan manusia pada saat mendatangi manusia lain, pasti akan memakai pakaian paling yang paling rapih serta membanggakan. Dengan adanya keharusan ihram memakai kain putih tak berjahit yang bertolak belakang dengan kebiasaan manusia di kesehariannya, Allah Swt seakan ingin memberi tahu Sahabat Haji Plus sekalian bahwa tujuan untuk mendatangi tempat Allah Swt berbeda dengan mendatangi tempat makhluk. Sahabat Haji Plus harus dapat menyesuaikan kepada siapa Sahabat Haji Plus akan bertamu, baik ke teman, tetangga, pasar, bahkan ke rumah Allah Swt, semua ada adab nya masing – masing. Kesadaran Sahabat Haji Plus untuk mendatangi Allah haruslah berbeda dengan mendatangi manusia maupun makhluk secara umum. Allah merupakan sang khaliq (pencipta), sedang selain-Nya adalah makhluk (ciptaan). Mengenakan pakaian yang bagus di hadapan manusia lain bisa jadi untuk menjaga wibawa atau memperoleh kenyamanan orang yang melihat. Hal ini dikarenakan manusia merupakan makhluk dengan ikatan-ikatan benda duniawi pada dirinya. Allah berbeda dengan manusia. Allah maha pencipta yang niscaya lebih kaya dari ciptaannya.

Baca Artikel Lainnya :  Haji Furoda Harga

Masjid di Sekitar Masjid Nabawi

Saat Sahabat Haji Plus berada di Tanah Suci, tentunya terdapat dua masjid utama yang menjadi tujuan Sahabat Haji Plus saat ke tanah suci. Dua masjid yang menjadi tujuan Sahabat Haji Plus adalah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Teruntuk Sahabat Haji Plus yang pernah mengunjungi rumah Allah, pasti akan muncul rasa rindu untuk kembali ke Tanah Suci. Tapi, apakah Sahabat Haji Plus mengerti bahwa walau sudah ada Masjid Nabawi yang besar di Madinah, ternyata masih ada banyak masjid yang berada dekat dengan Masjid Nabawi. Beberapa masjid ini ternyata memiliki sejarah masing – masing dan diantaranya masih digunakan untuk melakukan sholat di dalamnya. Hajiplus.id akan merangkum ragam masjid terdekat dari Masjid Nabawi yang dapat dijangkau dengan jalan kaki saja. Nah apa saja? Berikut lebih jelasnya.

  1. Masjid Ali bin Abi Thalib

Saat Sahabat Haji Plus berada di Tanah Suci, Sahabat Haji Plus selanjutnya dapat melakukan kunjungan ke masjid dekat masjid Nabawi saat waktu senggang yaitu ke Masjid Ali bin Abi Thalib yang letaknya ak jauh dari Masjid Nabawi. Sahabat Haji Plus dapat berjalan yang tak jauh dari pintu nomor 7 Masjid Nabawi. Singkat cerita, pada jaman dahulu Rasulullah Saw pernah melaksanakan sholat Ied berjamaah di masjid ini. Kini, masjid ini sudah tak difungsikan lagi sebagai masjid untuk sholat, akan tetapi sudah dijadikan sebagai monumen saja. 

  1. Masjid Abu Bakar

Masjid selanjutnya yang terdekat dan dapat dijangkau dengan jalan kaki dari Masjid Nabawi ialah Masjid Abu Bakar. Masjid ini memang berukuran tak terlalu besar. Akan tetapi bentuknya cukup menarik. Sama seperti masjid lainnya, Nabi Muhammad Saw dahulu kala juga pernah melaksanakan sholat Ied di masjid ini dan sekarang menjadi monumen saja.

  1. Masjid Ghamamah

Tahukah Sahabat Haji Plus bahwa Ghamamah dalam bahasa Indonesia memiliki arti mendung. Masjid ini dinamakan mendung karena dahulu Rasulullah Saw pernah sholat Ied di area ini, dan selama sholat Ied berlangsung, ada awan mendung yang selalu berada di atas area masjid ini. Sahabat Haji Plus dapat mampir ke Masjid Ghamamah ini dengan jalan kaki saja dari Masjid Nabawi keluar ke arah kiblat kemudian jalan lurus dan akan melihat alun-alun. Lokasi masjid ini tak jauh dari alun – alun tersebut. Tetapi sayangnya, masih ditemukan beberapa orang yang melakukan sholat di Masjid Ghamamah dan menghadap ke masjid tersebut, bukannya menghadap ke arah kakbah. Jangan ditiru ya teman – teman.

  1. Masjid Imam Bukhari

Sahabat Haji Plus tentunya tak asing bukan terkait Imam Bukhari? Sahabat Haji Plus tentu mengerti, karena Imam Bukhari hadist nya selalu digunakan sebagai rujukan. Pada zamannya dahulu, Imam Besar Bukhari mengumpulkan hadist – hadist Rasulullah Saw di rumahnya yang kemudian dijadikan masjid. Masjid Imam Bukhari ini dapat dijangkau oleh jemaah dengan berjalan kaki dari Pintu 26 lalu lurus ke arah Al Haram Hotel, ke kanan, kemudian ke kiri dan tidak jauh akan melihat Masjid Imam Bukhari. Masjid ini adalah masjid yang berada dekat dengan Masjid Nabawi dan masih digunakan untuk melakukan ibadah sholat. Tak hanya memiliki bentuk bangunan yang menarik saja, akan tetapi juga jadi tempat yang sejuk dan nyaman bagi para jemaah yang singgah.

Demikianlah informasi bagi Sahabat Haji Plu yang ingin mendaftar paket Haji Furoda atau disebut juga Haji plus tanpa antri. Semoga segala informasi yang diberikan dapat bermanfaat bagi Sahabat Haji Plus. Hendaknya tak lupa untuk menjaga kesehatan sebelum menjelang keberangkatan ibadah haji. Hal ini bertujuan agar kondisi tubuh Sahabat Haji Plus pada saat di Tanah Suci dalam keadaan sehat wal afiat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *