Biaya ONH Plus

Biaya ONH Plus

Biaya ONH Plus

Haji merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Menunaikan ibadah haji bukan tamsya, bukan pula bermegah – megahan. Akan tetapi sebagai bentuk refleksi klimaksnya ketundukan dan merendahkan diri seorang budak di hadapan Allah yang disertai cinta dan harapan serta rasa takut kepada Allah SWT. Berangkat ke Tanah Suci bukan untuk menikmati indahnya hotel, lezatnya makanan ataupun keindahan serta keragaman obyek wisata yang ada disana, melainkan karena menjalankan ibadah. Pergi ke Tanah Suci tak lain tak bukan ialah karena menjalankan kewajiban yang diperintahkan Dzat Allah yang Maha Sempurna. Jadi bukan haji kalau tak beribadah dan bukan pula ibadah jika tidak ada ketawadhuan maupun ketundukan kepada hukum – Nya. Begitu banyak yang mengharapkan untuk menjadi tamu Allah di Tanah Suci, tentunya Sahabat Haji Plus juga berharap demikian bukan? Semoga Sahabat Haji Plus yang memiliki niat baik untuk segera menunaikan ibadah haji segera terlaksana. Bagi Sahabat Haji Plus yang hendak berencana pergi ke Tanah Suci dalam rangka melaksanakan ibadah haji, pastikan telah memahami perihal memilih program maupun paket yang tersedia dalam pelaksanaan ibadah haji. Dengan begitu, Sahabat Haji Plus sekalian dapat mempersiapkannya dengan baik. Untuk informasi seputar haji lebih lengkap, yuk simak informasi di bawah ini.

Ibadah Haji Tanpa Ribet

            Sebagian dari Sahabat Haji Plus mungkin masih berpikiran bahwa untuk melaksanakan ibadah haji harus menunggu waktu yang cukup lama. Waktu yang cukup lama inilah yang terkadang membuat seseorang enggan untuk menunggu. Waktu tunggu keberangkatan yang lebih lama ini ialah program Haji Reguler. Padahal terdapat program haji yang memiliki waktu tunggu keberangkatan lebih cepat dibandingkan haji regular. Namun, yang membedakan ialah memang dari segi biayanya yang memilii selisih cukup jauh. Akan tetapi, hal ini tak menjadi masalah bagi Sahabat Haji Plus yang memiliki dana yang lebih serta enggan untuk menunggu waktu keberangkatan yang lama. Ada beberapa keuntungan ketika Sahabat Haji Plus memilih program Haji ONH Plus. Keuntungannya ialah mendapatkan waktu tunggu keberangkatan yang lebih cepat, mendapatkan fasilitas exsclusive dan lain sebagainya. Apabila Sahabat Haji Plus hendak menunaikan ibadah haji tanpa ribet. Sahabat Haji Plus dapat mempercayakannya pada Satutours Travel yang telah terpercaya dan berpengalaman. Terdapat beberapa paket haji yang dapat Sahabat Haji Plus pilih untuk menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Mulai dari Paket Haji Plus, Haji Plus VIP hingga paket Haji Furoda. Perihal biaya tentu lebih tinggi dibandingkan haji regular. Hal ini dikarenakan ketiga paket selain haji regular tersebut memiliki waktu keberangkatan yang lebih cepat dibandingkan haji regular. Biaya Haji ONH Plus dibandrol dengan harga 9.000 USD. Teruntuk Sahabat Haji Plus yang hendak melaksanakan Ibadah Haji, update terus informasi seputar ibadah haji di hajiplus.id

Perkembangan Ibadah Haji

Sahabat Haji Plus tentunya sudah mengerti bahwa Indonesia merupakan peminat ibadah haji terbesar di penjuru dunia. Oleh karena itulah, pada saat musim haji selalu ditemui riuhnya jamaah haji yang berada di tanah suci. Karena memang sudah menjadi rutinitas ibadah tahunan yang sealu ditunaikan secara bergantian oleh jamaah haji yang ada di Indonesia. Bahkan jumlah jamaah haji di Indonesia semakin meningkat seiring bertambahnya tahun. Karena, pelaksanaan ibadah haji saat ini berbeda dengan jaman dahulu yang harus ditempuh dengan berbulan – bulan dengan menggunakan jalur transportasi laut. Kini, seiring dengan perkembangan teknologi melaksanakan ibadah haji tak lagi menggunakan jalur laut akan tetapi telah menggunakan jalur udara yang jarak tempuhnya dari segi waktu lebih singkat. Pelaksanaan ibadah haji ini dari masa ke masa telah mengalami berbagai macam fase. Untuk sekarang ini, proses pelaksanaan dalam hal menunaikan ibadah haji cukup mudah. Hal ini dikarenakan karena adanya dukungan dari pemerintah serta tersedianya layanan transportasi yang mendukung. Bagi sahabat Haji Plus yang ingin mengetahui perkembangan pelaksanaan ibadah haji dari masa ke masa, yuk simak informasi di bawah ini.

  1. Dekade Pertama Penyebaran Islam

Tahukah sahabat Haji Plus? Bahwa Indoneisa telah mengerti perihal kewajiban pelaksanaan ibadah haji sejak dekade pertama saat penyebaran agama islam di Pulau Jawa dan Sumatera. Sejak saat itulah, pemeluk agama islam pada saat itu telah memahami perihal kewajiban dalam rukun islam yang kelima tersebut. Pada saat itu, bagi yang telah mampu dalam segi biaya, maka akan melaksanakan ibadah haji dengan menggunakan alat transportasi kapal dagang dari  Cina, India, Timur Tengah dan Arab untuk mengarungi laut selama berbulan – bulan lamanya menuju Jeddah untuk melaksanakan ibadah haji. Butuh waktu yang cukup lama dalam perjalanan proses melaksanakan ibadah haji.

  1. Abad Ke- 18

Pada saat abad ke 18, masyarakat Indonesia telah mengetahui dan memahami dengan betul terkait perlaksanaan ibadah haji yang termasuk dalam kewajiban bagi yang mampu. Sehingga pada saat itu, sebagian besar dari mereka memiliki tujuan untuk bisa berkunjung ke Tanah Suci. Namun, tak hanya melaksanakan ibadah haji saja. Ada pula yang berkunjung kesana dengan tujuan berdagang dan memperdalam ilmu agama.

  1. Tahun 1825

Pada tahun 1825, saat itu pemerintah colonial belanda mengeluarkan sebuah peraturan yang terkait dengan haji. Peraturan yang dikeluarkan tersebut yakni peraturan yang mengharuskan jamaah haji yang berasal dari pulau jawa harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan izin berangkat haji. Tak hanya itu, pemberangkatan pun harus dilakukan dengan menggunakan kapal Belanda. Setelah itu, pada tahun 1831, peraturan terkait ibadah haji mengalami perubahan. Perubahan peraturan terkait ibadah haji ini berisi bahwa calon jamaah haji yang tidak membayar uang jalan akan dikenakan biaya dua kali lipat pada saat kembali ke Indonesia.

  1. Tahun 1852

Pada tahun 1852, peraturan terkait haji pun diubah kembali. Peraturan terkait haji yang terbaru ialah surat izin atau paspor haji masih diwajibkan akan tetapi gratis serta taka da denda pajak. Namun, pada saat itu gubernur pemerintah Belanda menginstruksikan untuk meningkatkan pengawasan menajdi lebih ketat bagi para jamaah haji.

  1. Tahun 1947

Pada tahun 1947 berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh pimpinan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) ibadah haji untuk jamaah Indonesia diberhentikan. Hal ini dikarenakan pada saat itu situasi di Indonesia masih genting karena pasca kemerdekaan.

  1. Tahun 1948

Kemudian selanjutnya, pada tahun 1948 suasana Indonesia sudah tak seperti sebelumnya. Karena suasana pada tahun ini sudah lebih baik dari tahun sebelumnya. Sehingga, K.H Moh. Adnan selaku delegasi Indonesia bertemu dengan Raja Arab Saudi yakni Ibnu Saud untuk membicarakan terkait proses penyelenggaraan haji. Setelah itu, penyelenggaran haji di Indonesia resmi kembali untuk dilaksanakan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

  1. Tahun 1952

Pada tahun 1952, Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Agama membentuk perusahaan Pelayaran Muslim yang bertujuan untuk memfasilitasi transportasi umat islam yang hendak melaksanakan ibadah haji. Di tahun 1952 ini juga, telah resmi terbuka akses transportasi jalur udara dari Indonesia menuju Tanah Suci.

  1. Tahun 1964

Pada tahun 1964 telah terbentuk perusahaan pelayaran yakni PT Arafat. Perusahaan pelayaran tersebut ialah satu – satunya transportasi laut yang dimiliki pemerintah dalam hal menangani masalah angkutan jamaah haji. Pada saat itu penggunaan kapal laut lebih mendominasi ketimbang menggunakan pesawat. Hal ini dikarenakan biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan kapal laut lebih terjangkau dibandingkan dengan penggunaan pesawat. Selanjutnya, pada tahun 1969 pemerintah mengambil ali semua hal terkait penanganan penyelenggaraan ibadah haji berdasarkan keputusan presiden nomor 22 tahun 1969.

  1. Tahun 1970 sampai tahun 1999

Pada tahun 1970, kapal laut tak lagi menjadi peminat untuk menjadi sarana transportasi untuk menuju ke tanah suci. Pada saat itu, pesawat udara lebih memiliki banyak peminat. Hal ini dikarenakan biayanya sudah tak lagi memiliki selisih yang jauh. Oleh karena itu, banyak yang lebih memilih menggunakan saraana transportasi pesawat ketimbang kapal. Sehingga pada tahun 1979, Menteri perhubungan Indonesia telah menetapkan untuk meniadakan pengangkutan jamaah haji dengan menggunakan kapal laut dan menetapkan pesawat  sebagai sarana transportasi satu – satunya untuk menuju ke tanah suci. Selanjutnya pada tahun 1999, telah dikeluarkan undang – undang nomor 17 tahun 1999 yang berisi mengatur penyelenggaraan ibadah haji dalam hal perlindungan, pelayanan dan pembinaan jamaah haji. Sejak saat itulah, kuota keberangkatan jamaah haji di Indonesia semakin meningkat.

  1. Era Reformasi

Setelah berada pada era reformasi, segala pelayanan dan perlindungan untuk jamaah haji semakin mengalami perkembangan yang baik. Kredibilitas panitia haji pemerintah diuji pada tahun 2004 dan 2006. Segala perubahan dari masa ke masa tersebut membawa perbaikan yang lebih baik lagi bagi penyelenggraan ibadah haji di Indonesia. Saat ini, jamaah haji telah semakin mengalami perkembangan yang baik terkait pelayanan dan perlindungan.

Beberapa Tempat Ibadah Haji

  1. Makkah Al Mukarommah

Tahukah Sahabat Haji Plus? Bahwa di kota Makkah inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka’bah, yang berada di pusat Masjidil Haram. Dalam rangakaian ibadah haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan thawaf haji.

  1. Arafah

Arafah ini merupakan kota yang terletak di sebelah timur Makkah. Arafah juga dikenal sebagai tempat pusat pelaksanaan ibadah haji yaitu tempat untuk melaksanakan kegiatan wukuf yang selalu dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah tiap tahunnya. Arafah ini merupakan daerah berbentuk padang luas ini adalah tempat berkumpulnya sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh dunia. Di luar musim haji, Arafah ini tidak dipakai sehingga sangat sepi.

  1. Muzdalifah

Muzdalifah merupakan tempat yang berada di dekat Mina dan Arafah. Muzdalifah ini dikenal sebagai tempat jamaah haji melakukan mabit (bermalam) dan mengumpulkan bebatuan untuk melaksanakan ibadah jumrah di Mina.

  1. Mina

Mina merupakan tempat berdirinya tugu jumrah yakni tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu ke tugu jumrah sebagai simbolisasi tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Di masing-masing tempat itu berdiri tugu yang digunakan untuk pelaksanaan: Jumrah Aqabah, Jumrah Ula dan Jumrah Wustha. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam.

  1. Madinah

Madinah merupakan kota suci kedua umat Islam. Di tempat inilah panutan umat Islam, Nabi Muhammad SAW dimakamkan di Masjid Nabawi. Tempat ini sebenarnya tidak masuk ke dalam ritual ibadah haji, namun jamaah haji dari seluruh dunia biasanya menyempatkan diri berkunjung ke kota yang letaknya kurang lebih 330 km (450 km melalui transportasi darat) utara Makkah ini untuk berziarah dan melaksanakan salat di masjidnya Nabi.

Amalan – Amalan Haji

Dalam Ibadah haji terdapat serangkaian kegiatan yang dilakukan dan tentunya terdapat amalan – amalan yang hendaknya dilakukan selama proses ibadah haji. Apa saja amalan yang dilakukan? Berikut lebih jelasnya.

Tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah)

  1. Pada waktu Dhuha, jamaah haji berihram dari tempat tinggalnya dengan niat akan melaksanakan ibadah haji, ini bagi yang berniat haji tamattu’. Sedangkan bagi yang berniat haji ifrad dan qiron, ia tetap berihram dari awal.
  2. Setelah berihram, wajib menjauhi segala larangan ihram.
  3. Memperbanyak talbiyah.
  4. Bertolak menuju Mina sambil bertalbiyah.
  5. Melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh di Mina. Shalat-shalat tersebut dikerjakan di waktunya masing-masing (tanpa dijamak) dan shalat empat raka’at (Zhuhur, Ashar dan Maghrib) diqoshor.
  6. Mabit (bermalam) di Mina dan hukumnya sunnah.
  7. Memperbanyak dzikir kala itu seperti dzikir pagi dan petang, juga dzikir lainnya.

Tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah)

  1. Sesudah shalat Shubuh di Mina dan setelah matahari terbit, bertolak menuju Arafah sambil bertalbiyah dan bertakbir.
  2. Pada hari Arafah, yang disunnahkan bagi jama’ah haji adalah tidak berpuasa sebagaimana contoh dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Jika memungkinkan, sebelum wukuf di Arafah, turun sebentar di masjid Namirah hingga masuk waktu Zhuhur.
  4. Jika memungkinkan, mendengarkan khutbah di masjid Namirah, lalu mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan jamak taqdim dan diqashar dengan satu adzan dan dua iqamah.
  5. Setelah shalat Zhuhur, memasuki padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.
  6. Ketika wukuf, berupaya semaksimal mungkin untuk berkonsentrasi dalam do’a, dzikir dan merendahkan diri kepada Allah.
  7. Menghadap ke arah kiblat ketika berdo’a sambil mengangkat kedua tangan dengan penuh kekhusyu’an.
  8. Saat wukuf, memperbanyak bacaan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir” dan bacaan shalawat.
  9. Tidak keluar meninggalkan Arafah kecuali setelah matahari tenggelam.
  10. Setelah matahari terbenam, bertolak menuju Muzdalifah dengan penuh ketenangan.
  11. Sampai di Muzdalifah, lakukan terlebih dahulu shalat Maghrib dan Isya’ dengan dijamak dan diqashar (shalat Maghrib 3 rakaat, sedangkan shalat Isya’ 2 raka’at) dengan satu adzan dan dua iqamah.
  12. Mabit di Muzdalifah dilakukan hingga terbit fajar. Adapun bagi kaum lemah dan para wanita dibolehkan untuk berangkat ke Mina setelah pertengahan malam.

Tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahr atau Idul Adha)

  1. Para jamaah haji harus shalat Shubuh di Muzdalifah, kecuali kaum lemah dan para wanita yang telah bertolak dari Muzdalifah setelah pertengahan malam.
  2. Setelah shalat Shubuh, menghadap ke arah kiblat, memuji Allah, bertakbir, bertahlil, serta berdo’a kepada Allah hingga langit kelihatan terang benderang.
  3. Berangkat menuju Mina sebelum matahari terbit dengan penuh ketenangan sambil bertalbiyah/ bertakbir.
  4. Ketika tiba di lembah Muhasir, langkah dipercepat bila memungkinkan.
  5. Menyiapkan batu untuk melempar jumroh yang diambil dari Muzdalifah atau dari Mina.
  6. Melempar jumroh ‘aqobah dengan tujuh batu kecil sambil membaca “Allahu Akbar” pada setiap lemparan.
  7. Setelah melempar jumroh ‘Aqobah berhenti bertalbiyah.
  8. Bagi yang berhaji tamattu’ dan qiran, menyembelih hadyu setelah itu. Yang tidak mampu menyembelih hadyu, maka diwajibkan berpuasa selama 10 hari: 3 hari pada masa haji dan 7 hari setelah kembali ke kampung halaman. Puasa pada tiga hari saat masa haji boleh dilakukan pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
  9. Mencukur rambut atau memendekkannya. Namun mencukur (gundul) itu lebih utama. Bagi wanita, cukup menggunting rambutnya sepanjang satu ruas jari.
  10. Jika telah melempar jumroh dan mencukur rambut, maka berarti telah tahallul awwal. Ketika itu, halal segala larangan ihram kecuali yang berkaitan dengan wanita. Setelah tahallul awwal boleh memakai pakaian bebas.
  11. Menuju Makkah dan melaksanakan thawaf ifadhoh.
  12. Melaksanakan sa’i haji antara Shafa dan Marwah bagi haji tamattu’ dan bagi haji qiron dan ifrod yang belum melaksanakan sa’i haji. Namun jika sa’i haji telah dilaksanakan setelah thawaf qudum, maka tidak perlu lagi melakukan sa’i setelah thawaf ifadhoh.
  13. Dengan selesai thawaf ifadhoh berarti telah bertahallul secara sempurna (tahalluts tsani) dan dibolehkan melaksanakan segala larangan ihram termasuk jima’ (hubungan intim dengan istri).

Tanggal 11 Dzulhijjah (Hari Tasyrik)

  1. Mabit di Mina pada sebagian besar malam.
  2. Menjaga shalat lima waktu dengan diqashar (bagi shalat yang empat raka’at) dan dikerjakan di waktunya masing-masing (tanpa dijamak).
  3. Memperbanyak takbir pada setiap kondisi dan waktu.
  4. Melempar jumroh yang tiga setelah matahari tergelincir, mulai dari jumroh ula (shugro), jumroh wustho, dan jumroh kubro (aqobah).
  5. Melempar setiap jumroh dengan tujuh batu kecil sambil membaca “Allahu Akbar” pada setiap lemparan.
  6. Termasuk yang disunnahkan ketika melempar adalah menjadikan posisi Makkah berada di sebelah kiri dan Mina di sebelah kanan.
  7. Setelah melempar jumroh ula dan wustho disunnahkan untuk berdoa dengan menghadap ke arah kiblat. Namun, setelah melempar jumroh aqobah tidak disunnahkan untuk berdo’a.
  8. Mabit di Mina.

Tanggal 12 Dzulhijjah (Hari Tasyrik)

  1. Melakukan amalan seperti hari ke-11.
  2. Jika selesai melempar ketiga jumroh lalu ingin pulang ke negerinya, maka dibolehkan, namun harus keluar Mina sebelum matahari tenggelam. Kemudian setelah itu melakukan thawaf wada’. Keluar dari Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah disebut nafar awwal.
  3. Bagi yang ingin menetap sampai tanggal 13 Dzulhijjah, berarti di malamnya ia melakukan mabit seperti hari sebelumnya.
  4. Tanggal 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik)
  5. Melakukan amalan seperti hari ke-11 dan ke-12.
  6. Setelah melempar jumroh sesudah matahari tergelincir, kemudian bertolak meninggalkan Mina. Ini dinamakan nafar tsani.
  7. Jika hendak kembali ke negeri asal, maka lakukanlah thawaf wada’ untuk meninggalkan Baitullah. Bagi wanita haidh dan nifas, mereka diberi keringanan tidak melakukan thawaf wada’. Thawaf wada’ adalah manasik terakhir setelah manasik lainnya selesai. (Sebagian besar diambil dari Meneladani Manasik Haji dan Umrah, 131-144)

Itulah beberapa ulasan singkat terkait informasi Biaya ONH Plus. Bagi sahabat Haji Plus yang masih ingin membaca informasi penting lainnya terkait Haji Plus, sahabat Haji Plus dapat membacanya di website resmi hajiplus.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *