Thawaf

Thawaf

1338
0
SHARE

Thawaf , adalah mengelilingi Ka’bah dengan niat ibadah melaksanakan thawaf sebanyak tujuh kali putaran yang dimulai dari Istilam / mengambil niat dengan berdiri sejajar menghadap Hajar Aswad dengan posisi Ka’bah disebelah kiri atau berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Dianjurkan beristilam Rukun Yamani dan mencium Hajar Aswad jika mampu. Jika tidak mampu mencium, cukup melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad dan mencium tangan tersebut. Pada tiga putaran pertama dianjurkan berjalan dengan cepat, sedangkan pada empat putaran berikutnya dianjurkan berjalan biasa.

Thawaf Haji yang dilaksanakan dalam rangkaian pelaksanaan haji ada empat macam ;

  1. Pertama, thawaf yang termasuk rukun haji, yaitu thawaf ifadhah yang juga dikenal dengan thawaf ziyarah.
  2. Kedua, thawaf yang termasuk wajib haji, yaitu thawaf wada (hana bilah) atau thawaf shadr (hanafiyah).
  3. Ketiga, thawaf yang tergolong kepada sunat haji, yaitu thawaf qudum (bagi pelaku haji ifrad, haji qiran, dan umrah).
  4. Keempat, thawaf sunat lainnya.

Rukun & Syarat-Syarat Thawaf

Para ulama telah menetapkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi didalam melaksanakan thawaf. Thawaf menjadi tidak sah apabila syarat-syarat yang telah ditetapkan tersebut tidak dipenuhi. Mengenai apasaja yang menjadi syarat dalam thawaf, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

  • Berniat melakukan thawaf bagi selain thawaf ifadhah dan thawaf qudum. Thawaf qudum harus dilakukan setelah wuquf.
  • Menutup aurat seperti dalam shalat. Apabila aurat terbuka ketika sedang pelaksanaan thawaf, maka haji menjadi batal.
  • Suci dari hadats dan najis.
  • Memulai thawaf dari posisi lurus sejajar dengan Hajar Aswad.
  • Berjalan mengelilingin Ka’bah dengan posisi Hajar Aswad disebelah kiri pelaku thawaf. Akhir putaran juga sejajar dengan Hajar Aswad.
  • Seluruh badan pelaku thawaf harus berada diluar tembok baitullah, Syadzarwan, dan Hijir ismail.
  • Jumlah putaran harus tujuh kali secara lengkap.
  • Thawaf dilaksanakan di dalam Masjid al-Haram
  • Rangkaian thawaf tidak boleh terputus oleh amalan-amalan lain.
  • Berniat melakukan thawaf untuk thawaf selain thawaf rukun dan thawaf qudum.

            Ulama Malikiyah menetapkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan thawaf sebagai berikut.

  • Harus dilakukan sebanyak tujuh putaran. Bila kurang tujuh putaran, tidak sah. Sedangkan bila terlebihkan dari tujuh putaran, tidak ada masalah. Bila ada keraguan tentang jumlah putaran yang telah dikerjakan, maka pegang jumlah yang diyakini, lalu sempurnakan menjadi tujuh putaran.
  • Pelaksanaan tujuh putaran dilakukan secara berurutan (muwalat). Bila antara putaran dipisahkan oleh tenggang waktu yang lama, maka haji menjadi batal. Bila tenggang waktu pemisah hanya sebentar, maka tidak masalah.
  • Menutup aurat seperti dalam shalat
  • Suci dari hadats dan najis. Jika pelaku thawaf berhadast ketika tengah berthawaf, maka hukumnya batal. Jika dia berhadats setelah tujuh putaran, tetapi belum sempat shalat thawaf dua rakaat, sebaiknya diulang lagi thawafnya karena shalat tersebut sebagian dari thawaf. Kecuali dia telah keluar dari makkah dan sulit untuk kembali, maka dia harus mengulang shalat dua rakaat saja dan membayar seekor hewan korban.
  • Thawaf dilaksanakan di Masjid al-Haram. Tidak sah dilakukan di atas atap atau diluarnya.
  • Seluruh badan pelaku thawaf harus berada diluar Syadzarwan.
  • Menepatkan baitullah disisi kiri badan pelaku thawaf.
  • Thawaf dimulai dari sejajar Hajar Aswad.

Mengenai shalat yang dilakukan setelah tujuh putaran thawaf, menurut ulama Malikiyah hukumnya wajib dilakukan setelah thawaf ifadhah dan thawaf qudum. Sedangkan setelah thawaf wada’ terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mewajibkan dan ada yang menyatakan sunat. Pada rakaat pertama disunatkan membaca surat al-Kafirun dan pada rakaat kedua membacar surat al-ikhlas. Shalat tersebut dilakukan dibelakang makam Ibrahim. Kemudian dilanjutkan dengan berdoa di Multazan yang terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Bagi yang melakukan thawaf setelah ashar, disunatkan melaksanakan shalat sunat thawaf setelah shalat Magrib sebelum melakukan shalat rawatib.

Ulama Hanabilah berpendapat bahwa untuk sahnya thawaf harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.

  • Niat
  • Masuk waktunya, yaitu sejak pertengahan malam ‘idul Adha setelah wuquf di Arafah.
  • Menutup aurat seperti dalam shalat.
  • Suci dari hadats dan najis. Anak yang belum mumayyiz tetap sah hajinya, meskipun berhadats dan bernajis.
  • Dilakukan sebanyak tujuh putaran dan dimulai dari sejajar Hajar Aswad. Bila dimulai dari tempat lain, maka putaran tersebut tidak dihitung.
  • Thawaf dilakukan dengan berjalan kaki bila mampu.
  • Pelaksanaan tujuh putaran dilakukan secara berurutan (muwalat). Bila hadats ditengah pelaksanaan thawaf, maka thawaf tersebut menjadi batal dan harus diulangi dari awal. Jika ditengah pelaksanaan thawaf, terdengar iqamah shalat dari imam tetap, maka dia boleh mengikuti shalat berjamaah, kemudian melanjutkan thawaf yang terbengkalai dengan memulai dari Hajar Aswad.
  • Menetapkan Baitullah di sisi kiri badan pelaku thawaf.
  • Posisi badan pelaku thawaf diluar Hijir Ismail dan Syadzarwan secara keseluruhan.
  • Thawad dilakukan didalam Masjid al-Haram. Tidak sah dilakukan diluarnya, tapi sah dilakukan di atap masjid.

            Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa untuk sahnya thawaf harus dipenuhi beberapa syarat sebagai berikut.

  • Thawaf dilakukan didalam Masjid al-Haram, walaupun dari balik tiang atau dari balik tiang zamzam. Thawaf yang dilakukan di luar Masjid al-Haram tidak sah.
  • Thawaf ifadhah harus dilakukan setelah terbit fajar pada tanggal 10 zulhijjah sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Thawaf qudum dilakukan dalam rentang waktu sejak memasuki kota mekkah sampai dilakukan wuquf di Arafah atau dengan terbitnya fajar hari Nahar (10 Zulhijjah).

 Sunat dan Wajib dalam melaksanakan Thawaf

Menurut ulama syafiiyah, amalan yang termasuk ke dalam sunat thawad adalah sebagai berikut.

  • Pada saat memulai thawaf, berdiri disisi Hajar Aswad menghadap kepada Rukun Yamani dari Ka’bah dengan Hajar Aswad berada disebelah kanan. Pundak kanan berada di ujung Hajar Aswad. Lalu berniat untuk Thawaf. Lalu menghadap ke kanan ke arah Hajar Aswad dan berjalan menuju pintu Ka’bah. Setelah melewati Hajar Aswad, menghadap kanan dan menjadikan Ka’bah disebelah kiri dan memulai thawaf. Prosedur ini hanya dikerjakan pada putaran pertama.
  • Berjalan kaki tanpa alas kaki ketika thawaf jika mampu. Thawaf dengan berkendaraan tanpa ada uzur berarti bertentangan dengan hal yang utama. Langkah kaki sebaiknya dirapatkan agar jumlah langkahnya banyak sehingga akan memperbesar pahala. Disunatkan menyentuh Hajar Aswad dan mencium sekadarnya ketika memulai thawaf. Disunatkan bagi laki-laki untuk meletakkan dahinya ke Hajar Aswad serta menyentuh dan menciumnya sebanyak tiga kali. Jika tidak mampu menyentuhnya secara langsung, bisa dengan menggunakan tongkat atau galah, lalu mencium ujung tongkat atau galah yang menyentuh Hajar Aswad tersebut. Jika tidak juga bisa, cukup dengan isyarat tangan. Menggunakan tangan kanan lebih utama.
  • Berdoa dan membaca “Bismillahi Allahu Akbar” ketika menyentuh atau melalui Hajar Aswad sambil menganggkat kedua tangan seperti ketika shalat. Kemudian membaca: “Allahumma Imanan bika wa tashdiqn bikitabika wa wafa’an bi’ahdika wattiba’an lisunnati nabiyyika Muhammadin SAW.” Bacaan ini lebih sunnah dibaca pada thawaf pertama dari pada thawaf lainnya.
  • Bagi laki-laki, berjalan cepat (tidak melompat atau lari) pada tiga putaran pertama dan berjalan pelan pada putaran selanjutnya. Wanita cukup berjalan biasa pada setiap putaran.
  • Melakukkan idhthiba’ bagi laki-laki meskipun masih kecil. Idhthiba adalah meletakkan kedua ujung pakaian ihram di atas bahu kiri dan menempatkan bagian tengah pakaian ihram dibawah bahu kanan.
  • Laki-laki dan anak kecil disunatkan dekat dengan Ka’bah jika tidak ada kesulitan. Sedangkan wanita disunatkan tidak mendekat ke Ka’bah untuk menjaga diri.
  • Pelaksanaan tujuh putaran dilakukan secara berurutan (muwalat). Bila hadats ditengah pelaksanaan thawaf, meskipun disengaja, maka hendaklah bersuci dan meneruskan thawafnya. Akan tetapi, memulai dari awal lebih baik. Jika ditengah pelaksanaan thawaf, terdengar iqamah shalat, maka hendaklah dia mengikuti shalat berjamaah terlebih dahulu, kemudian melanjutkan thawaf yang terbengkalai. Akan tetapi, memulai dari awal lagi lebih utama.
  • Shalat dua rakaat setelah thawaf. Bisa juga diganti dengan shalat fardhu atau shalat sunat lainnya. Shalat tersebut disunatkan langsung dikerjakan setelah thawaf dan dekarjakan di belakang Maqam Ibrahim atau di Hijir Isma’il. Lali menyentuh Hajar Aswad dan mengerjakan sa’i bila memang dituntut melakukannya.

            Dimakruhkan menghentikan pelaksanaan thawaf tanpa sebab, meludah tanpa alasan, meletakan kedua tangan dibelakang punggungnya atau mulutnya bukan pada satu menguap, menyembunyikan jemari, dan menahan kencing atau berak.

            Ulama malikiyah berpendapat bahwa ada dua hal yang menjadi wajib thawaf, yaitu melaksanakan shalat dua rakaat setelah thawaf dan berjalan kaki ketika thawaf jika mampu. Adapun yang menjadi sunat thawaf adalam sebagai berikut.

  • Disunatkan menyentuh Hajar Aswad pada putaran pertama dan kemudian bertakbir. Jika tidak dapat mencium, hendaklah menyentuh dengan tangan. Jika tidak mampu menyentuh secara langsung, bisa dengan menggunakan tongkat dan galah, lalu menyentuhkan ke ujung mulut tongkat atau galah yang menyentuh Hajar Aswad tersebut dan bertakbir. Jika tidak bisa, cukup dengan bertakbir setiap kali melewati dan menghadap Hajar Aswad.
  • Menyentuh Rukun Yamani dengan tangan pada putaran pertama, lalu meletakkan tangan tersebut kemulut.
  • Berdo’a ketika thawaf dengan do’a apa saja
  • Ramal, yaitu berjalan cepat pada tiga putaran pertama bagi laki-laki, kecuali pada thawaf ifadhah. Bila tidak melaksanakan thawaf qudum, maka disunatkan ramal bagi laki-laki pada thawaf ifadhah.
  • Mencium Hajar Aswad dan menyentuh Rukun Yamani pada putaran pertama.
  • Mengambil tempat dekat Ka’bah bagi laki-laki dan mengambil tempat dibelakang lingkaran laki-laki bagi perempuan.

                 Ulama Hanafiyah juga mengemukakan pendapat tentang wajib dan sunat thawaf. Wajib thawaf adalah hal-hal sebagai berikut ini.

  • Memulai thawaf dari Hajar Aswad. Jika tidak memulai dari Hajar Aswad, wajib mengulangi selama masih di mekkah. Jika telah pulang, maka wajib membayar dam.
  • Tayamum, yaitu memulai dari kanan dengan menempatkan Ka’bah di sebelah kiri pelaku thawaf. Jika dilakukan sebaliknya, maka wajib mengulangi lagi atau membayar dam.
  • Menutup aurat. Jika seperempat dari badan yang harus ditutupi tersebut terbuka, maka wajib mengulangi lagi atau membayar dam.
  • Berjalan kaki bila mampu. Jika seseorang memakai kendaraan atau di panggul tanpa uzur ketika thawaf, maka wajib mengulangi lagi atau membayar dam.
  • Berthawaf diluar tembok Hijir Ismai’il karena sebagian dari Hijir Isma’il termasuk Baitullah.
  • Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran dari Hajar Aswad ke Hajar aswad. Tujuh putaran tersebut termasuk wajib dalam thawaf qudum dan wada’. Jika seseorang meninggalkan bagian terbesar thawaf (empat putaran), wada maka wajib membayar dam. Jika yang ditinggalkan kurang dari empat putaran, maka bagi tiap-tiap putaran yang ditinggalkan, wajib dikeluarkan sedekah. Pada thawaf qudum, tidak ada kewajiban apa-apa jika meninggalkan sebagai thawaf, kecuali bertobat sebagai thawaf qudum hukumnya sunat saja. Adapun thawaf ziyarah, empat putarannya (bagian terbanyak) termasuk rukun haji. Haji batal jika minggalkan empat putaran. Tiga putaran sisanya adalah wajib haji.
  • Shalat dua rakaat setelah selesai thawaf pada semua macam thawaf. Lebih utama shalat tersebut segera dilakukan setelah thawaf selesai dan dilaksanakan di belakang Maqam Ibrahim, kemudian di dalam Ka’bah, kemudian didalam Hijir Isma’il di bawah pancuran, kemudian di tempat mana saja yang dekat dengan Hijir Ismail menghadap ke Baitullah, kemudian di dalah Masjid al-Haram, kemudian dimana saja di Tanah haram, pada rakaat pertama membaca surat al-Kafirun dan pada rakaat keduan membaca surat al-Ikhlash.

Adapun yang menjadi sunat thawaf adalah amalan-amalan sebagai berikut.

  • Melaksanakan idhthiba’, yaitu meletakan kedua ujung pakaian ihram diatas bahu kiri dan menempatkan bagian tengah pakaian ihram dibawah bahu kanan. Hal ini dilakukan setiap thawaf yang dilanjutkan pada setiap thawaf yang dilanjutkan dengan sa’i, seperti thawaf qudum.
  • Ramal, yaitu berjalan cepat dengan mempercepat langkah dan mengerakkan bahu pada tiga putaran pertama.
  • Disunatkan menyetuh dan mencium Hajar Aswad pada akhir putaran. Berniat menyentuj dan mencium Hajar Aswad pada putaran pertama dan terakhir adalah sunat muakkad. Jika tidak dapat menyentuh dan mencium. Hendaklah menyentuh dengan tangan. Jika tidak mampu menyentuh secara langsung, bisa dengan tongkat atau galah, lalu mencium ujung tongkat atau galah yang menyentuh Hajar Aswad tersebut. Jika tidak juga bisa, cukup dengan menghadap Hajar Aswad, mengangkat tangan dengan telapak tangan menghadap ke arahnya, lalu bertakbir, bertahlil, memuji Allah SWT. Dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  • Berdoa dibelakang Maqam Ibrahim.
  • Meminum air zamzam sampai puas dan menuangkan sisanya kedalam sumur kembali dan mengucapkan:

            “Allahumma Inni As’aluka rizqan wasi’an wa ‘ilman Nafi’an wa syifa’an min kullida’in.”

            (Ya Allah, aku mohon kepadamu rezeki yang luas, ilmu yang bermanfaat, dan kesembuhan dari segala penyakit).

Kemudian menghampiri Multazam sebelum keluar menuju Shafa dan Marwah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY