Miqat

Miqat

1592
0
SHARE

Miqat, (Ar: waqata) yang berarti waktu. Mîqat jamaknya mawâqît. Dalam kaitannya dengan ibadah haji dan umrah di sini berarti ketentuan mengenai waktu dan tempat pelaksanaan ibadah haji atau umrah. Para ulama membagi miqat kepada dua bagian, mîqat zamanî dan mîqât makânî.

Mîqat zamânî dalam ibadah haji adalah waktu-waktu yang telah ditentukan untuk melaksanakan ibadah haji . ibadah haji tidak sah apabila dilakukan di luar waktu-waktu yang telah ditentukan itu. Menyangkut waktu-waktu pelaksanaan ibadah haji tersebut al Quran surat al-Baqarah ayat 189 menjelaskan sebagai berikut :

Mereka bertanya kepadamu (Muhamaad SAW.) tentang bulan sabit. Katakanlah Bulan sabit

itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah)haji….

 Kemudian dalam surat yang sama ayat 197 ditegaskan;

 (musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi barangsiapa yang menetapkan niatnya

dalam bulan itu akan mengerjakan haji maka tidak boleh ada rafats, berbuat fasik dan

berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji…

Para ulama sepakat, yang dimaksud dengan bulan-bulan yang dimaklumi (asyhur al-hajj) itu adalah tiga bulan berikut; bulan Syawal, bulan Dzulqa’idah dan bulan Dzulhijjah. Hanya saja mereka berbeda pendapat menyangkut bulan Dzulhijjah. Para ulama mazhab Maliki berpendapat bahwa mîqat zamânî adalah keseluruhan daritiga bulan tersebut yaitu Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Mereka melandaskan pendapat tersebut kepada umumnya ayat di atas (QS. 2: 197). Berbeda dengan ulama Mazhab Hanafi dan Hambali yang berpendapat bahwa miqat zamani bagi pelaksanaan ibadah haji adalah bulan Syawal, bulan Dzulqa’dah dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Pendapat mereka ini didasarkan kepada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW.

“Hari haji besar itu adalah hari ke 10 Dzulhijjah (yaum al nahr)” ( HR.al-bukhari dan Abu Dawud).

Senada dengan ini, para ulama mazhab Syafi’i juga berpendapat demikian. Perbedaan ialah bahwa mereka tidak menetapkan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah, melainkan 10 malam pertama bulan itu. Oleh karenanya, mîqat zamânî bagi mereka hanya sampai terbitnya matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah, bukan sampai terbenamnya matahari pada hari ke-10 itu, sebagaimana pendapat ulama Hanafi dan Hanbali.

Seseorang yanghendak yang hendak menunaikan ibadah haji harus melakukaknnya pad abulan-bulan yang telah ditentukan tersebut. Di luar waktu-waktu yang telah ditentukan itu, ibadah hajinya tidak sah. Berbeda dengan umrah (atau biasa dikenal di Indonesia dengan “haji kecil”), menurut para ulam fikih maka waktunya tidaklah ditentukan. Artinya, ia boleh dikerjakan kapan saja sepanjang tahun baik pada bulan-bulan haji maupun diluar bulan-bulan haji.

Mîqat Makani, adalah tempat yang telah ditentukan untukmemulai ihram dan berniat ibadah haji atau umrah. Dalam hadits-haditsnya Rasulullah telah menyebutkan berbagai tempat yang menjadi miqat bagi orang-orang yang akan melaksanakan haji atau umrah, baik bagi mereka yang tinggal di kota mekkah atau sekitarnya maupun bagi mereka yang datang dari luar Mekkah dan bahkan bagi mereka yang datang dari seluruh penjuru dunia. Para ulama fikih sepakat bahwa orang yang hendak menunaikan ibadah haji dan umrah tidak boleh melewati tempat (Mîqat Makani) tersebut menuju Mekkah, kecuali setelah ia berihram di situ. Jika tempat itu dilewati maka harus kembali ke tempat itu atau membayar dam.

Mengenal hadits-hadits yang terkait dengan miqat makani ini antara lain adalah sebagai berikut.

Dari Ibn abbas r.a berkata: ” Bahwa Rasulullah SAW. Telah menetapkan Dzulhalaifah (sebagai miqat) bagi penduduk Madinah, al-Juhfah bagi penduduk Syam, Qarn al-Manazil bagi penduduk Najed dan yalamlam bagi penduduk Yaman. Maka semua tempat itu berlaku bagi masing-masing penduduknya dan bagi siapa-siapa yang datang untuk menunaikan ibadah haji dan umrah, meski bukan dari penduduknya. Dan barangsiapa yang tinggal lebih dekat darinya maka tempatnya adalah rumahnya sendiri seperti halnya bagi penduduk Mekkah yang tempat (mîqâtnya) adalah rumahnya sendiri”. (HR. Bukhari Muslim).

Di dalam hadist lain disebutkan bahwa Ibn Umar r.a. berkata ;

                “Tatkala telah dibuka dua kota ini (maksdunya Kufah dan Basrah) parapenduduknya datang

kepada Umar seraya berkata; wahai Amir al mu’minin seseungguhnya Rasulullah SAW. Telah menetapkan Najed Qarn al-Manazil (sebagai miqatnya) dan itu terlalu memutar dari jalan kami dan apabila kami ambil itu (sebagai miqat) akan sangat menyusahkan kami. Maka Umar berkata; carilah jalan pintasnya! Maka dia lalu menetapkan Dzatu ‘Irqin (sebagai miqatnya) “. (HR. Al Bukhari)

  1.  Mîqat Makani bagi penduduk Mekkah. Sesuai dengan Hadits yang telah disebutkan di atas tadi maka miqat makani bagi penduduk Mekkah adalah tanah haram itu sendiri. Yaitu seluruh kota Mekkah. Bagi penduduk Mekkah yang hendak menunaikan ibadah haji atau ibadah umrah mereka mulai berihram dari rumah masing-masing. Menurut para ulama fikih, seperti ulama mazhab Hanafi dan Hanbali, sebaiknya miqat makani bagi penduduk Mekkah adalah al-Tan’im, yaitu suatu daerah yang berada diluar kota Mekkah yang jaraknya lebih kurang 5 km dari Mekkah, karena menurut mereka, Rasulullah SAW pernahmemerintahkan Abdul rahman bin Abi Bakar untuk berihram di masjid Aisyah di al-Tan’im. (HR, Muslim). Jika dari al-Tan’im tidak bisa maka boleh dari Ji’ranah. Kalau itu juga tidak bisa maka boleh dari Hudaibiyah, sebuah desa di sebelah utara Mekkah yang sekarang bernama al-Syumaisyiah, yang jaraknya lebih kurang dari 23 km dari kota Mekkah.
  2. Mîqat Makani bagi ummat Islam yang datang dari luar kota Mekkah. Sesuai dengan ketetapan hadits-hadits di atas paling tidak terdapat lima tempat yang di tetapkan Nabi Muhammad SAW. Sebagai Miqat makani bagi umat islam yang menunaikan ibadah haji dan umrah yang datangnya dari luar kota Mekkah. Pertama, adalah Dzulhaifah (atau yang dikenal dengan Bir Ali) ditetapkan sebagai miqat bagi ummat Islam yang dari Madinah. Letekany kira-kira 5 Km. Dari kota Madinha dan 450 km. Dari kota Mekkah. Kedua al-Juhfah (atau sekarang berganti dengan Rabigh) ditetapkan sebagai miqat bagi ummat Islam yang datang dari Syam ( Suriah, Palestina, Yordania, Libanon), Mesir, dan negara-negara al-Maghribi. Letaknya kira-kira 204 km dari Mekkah. Ketiga, Qarn al-Manazil , (disebut juga dengan Qarn al-Salib atau Sail al-Kabir) ditetapkan sebagai miqat bagi ummat Islam yang datang dari Najed (daerah Arab Saudi sebelah Timur), Uni emirat Arab, Bahrain dan Kuwait. Jarak antara tempat ini kira-kira 94 km dari sebelah timur Mekkah. Keempat, Yalamlam ditetapkan sebagai miqat bagi ummat Islam yang datang dari Yaman, India, Pakistan, Cina, bangladesh, Malaysia, Indonesia. Letaknya kira-kira 94 km. Sebelah selatan kota Mekkah. Kelima, Bagi ummat Islam yang datang dari Irak, Iran dan daerah timur lainnya maka miqat adalah Dztu ‘Irqin, yaitu suatu tempat yang berada di sebelah timur kota Mekkah. Jaraknya dari kota Mekkah kira-kira 94 km. Dinamakan Dzatu ‘Irqin karena ditempat ini ada sebuah gunung bernama ‘Irqin. Dengan demikian terlihat jelas bahwa ada lima miqat makani yang ditetapkan oleh nash agama (hadits Nabi Muhammad SAW), empat pertama darinya didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas, sedang yang terakhir diriwayatkan oleh Imam Bu-khari dan Ibn Umar.

Ketentuan mengenai miqat makani yang disebutkan diatas menurut para ulama fikih ditentukan sedemikian rupa terutama bagi ummat Islam yang berangkat Haji atau Umrah lewat jalan darat atau laut. Akan tetapi sekarang disebabkan kemajuan teknologi, terutama teknologi transportasi, maka mayoritas ummat Islam berangkat haji  dan umrah tidak lagi melewati jalan darat atau laut, melainkan transportasi udara. Oleh sebab itu menurut ulama fikih, bagi mereka yang diangkut dengan trasnportasi udara maka miqat makani-nya adalah tempat di mana mereka mendarat. Misalnya, penduduk Syam (Suriah), mereka tidak lagi mesti memulai ihramnya dari miqat makani al-juhfah atau Rabigh, karena pada umumnya mereka diangkut dengan pesawat terbang dan mendarat di Madinah. Oleh karenanya, mereka dibolehkan memulai ihamnya di miqat makani, Dzulhulaifah atau Bir Ali sebagaimana penduduk Madinah melakukannya. Bagi jamaah haji yang datang dari arah selatan dan tenggara yang miqat makani-nya ditetapkan di Yalamlam, terdapat perbedaan ulama menyangkut miqat makani mereka. Hal ini disebabkan oleh seluruh jamaah haji yang datang dari arah selatan dan tenggara ini sekarang diangkut dengan pesawat udara dan tidak mendarat di Yalamlam tetapi di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Misalnya, untuk jamaah haji indonesia, mereka berangkat dari Jakarta langsung menuju Abu Dhabi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY