Mina

Mina

1833
0
SHARE

Mina merupakan sebuah kawasan lembah yang memanjang dari Barat ke Timur dan dikelilingi oleh perbukitan batu cadas yang terjal sepanjang 3,5 Km. terletak di tengah perjalalanan antara Kota Suci Makkah dan Muzdalifah atau Arafah. Lokasi Mina tepatnya terletak kurang lebih empat mil di sebelah timur kota Makkah, antara wadi Muhasir dan Jumratul Aqabah dan disebelah utaranya terdapat bukit Sabir.

MinaKawasan Mina dewasa ini karena perluasan pemukiman penduduk kota Makkah telah menjadi sebuah kota satelit yang ramai dan dihuni oleh pemukiman penduduk yang menyambung ke kota Makkah Al Mukaramah, perjalanan dari kota Mina menuju kota suci Makkah dapat ditemuh melalui Sembilan jalur jalan raya yang lebar dan mulus untuk menunjang kegiatan jamaah haji pada saat puncak pelaksanaan ibadah Haji terutama pada saat jamaah Haji akan masuk dan keluar dari mina, terutama pada tanggal dimulai pada tanggal 09 Dzulhijjah dimana seluruh jamaah Haji memasuki mina untuk melaksanakan lontar jumrah dan mabit (bermalam) yang dilakukan selama 04 atau 03 Hari bagi jamaah haji yang melakukan nafar awal. Mina menjadi daerah yang paling lama didiami jamaah haji sepanjang pelaksanaan ibadah haji.

Di kawasan Mina terdapat tempat Jumrah yang berjumlah tiga ; Jumratul Ula , Jumratul Wustha dan Jumratul Aqabah yang kesemuanya itu berbentuk Tugu dimana dijadikan tempat jamaah melempar batu pada saat jumrah oleh berjuta – juta Jamaah haji

Kota Mina oleh penduduk Makkah disebut juga Muna / Al Muna yang artinya “Pengharapan” penamaan ini erat kaitanya dengan Nabi Adam as dan Siti Hawa, ditempat ini diriwayatkan Nabi Adam as setelah diturunkan dari Syurga dan berpisah dengan Siti Hawa selama ratusan tahun lamanya, di tempat ini mendapatkan bisikan / pengharapan bahwa nabi adam akan dipertemukan kembali dengan Siti Hawa, beberpa hari kemudian atas izin Allah nabi Adam as dipertemukan dengan Siti Hawa di Jabal Rahmah – Arafah.

 Ada beberapa Hal menarik di Mina terkait dengan sejarah Islam yang pertama di kawasan Mina dalam sejarah islam dikenal pula “Perjanjian Aqabah” diman di tempat ini Aqabah Nabiyulllah SAW menerima baiat dari kaum Muslimin yang datang dari Kota Madinah sebanyak dua kali. Dalam kedua baiat tersebut kaum muslimin Madinah berjanji apabila Nabi Muhammad Saw dan kaum muslimin di Makkah hijrah ke Madinah maka mereka berjanji akan membela , menjamin dan meperlakukan dengan Baik. Yang kedua adalah Masjid Kheif atau disebut juga Masjid Nabi Ibrahim yang pada awal berdirinya Masjid ini dibangun oleh Salahuddin Al Ayubi pada saat kekhalifahan islam dinasti Mamluk.

. Meskipun demikian, pada saat Mina dibanjiri oleh para jamaah haji yang mabit dan melontar jumrah, jalan-jalan tersebut menjadi sangat padat dan sering macet. Pada hari Nahar (tanggal 10 Zulhijjzah) sampai dengan hari-hari tasyriq (11,12 dan 13 Zulhijjah), kawasan Mina ini dikunjungi oleh jamaah haji guna melaksanakan ibadah korban, mabit dan melempar jumrah.

Sepanjang rangkaian pelaksanaan icadah haji, daerah Mina adalah tempat yang paling lama didiami oleh jamaah haji. Pada tanggal 8 Zulhijjah, jamaah haji sudah berdiam di Mina untuk melaksanakan Mabit sehari semalam sehingga dapat melaksanakan Shalat yang lima waktu Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di tempat tersebut. Jamaah haju sudah harus sampai di Mina sebelum masuk waktu Zhuhur pada hari tersebut dan bermalam di sana sampai esok harinya, tanggal 9 Zulhijjah. Setelah shalat shubuh tanggal 9 Zulhijjah, mereka berangkat ke padang Arafah untuk melaksanakan wuquf. Setelah wuquf di Arafah, jamaah haji berangkat kembali menuju Mina melalui Muzdalifah. Setibanya di Muzdalifah, mereka mengerjakan shalat Maghrib yang dijamak dengan Isya. Setelah berada sejenak atau bermalam di di Muzdalifah satu malam, esok harinya tanggal 10 Zulhijjah setelah shalat shubuh, jamaah haji berangkat menuju Mina guna melempar jumrah, memotong hewan korban, seterusnya bercukur dan bertahallul bagi yang ingin melaksanakannya di Mina.

Bagi jamaah haji yang mengambil nafar awal, mereka akan berada di Mina sampai sebelum matahari terbenam pada tanggal Zulhijjah. Sedangkan jamaah haju yang mengambil nafar tsani, akan berada di Mina sampaio dengan tanggal Zulhijjah. Setelah itu, mereka kembali ke Mekkah untuk menyempurnakan rukun haji lainnya seperti thawaf ifadah dan sa’i jika belum dikerjakan. Ada pula di antara jamaah haji, setelah melempar jumrah pertma, mereka langsung berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan thwaf dan sa’i untuk menyempurnakan rukun hajinyta. Sore harinya mereka kembali lagi ke Mina guna menyempurnakan satu atau dua hari tasruiq lagi dengan melempar jumrah yang kedua dan jumrah yang ketiga. Pada waktu Ashar di hari tasyriq yang ketiga barulah jamaah haji berangkat meninggalkan Mina menuju Mekkah.

Kota Mina disebut juga oleh orang arab dengan nama Muna yang bermakna “pengharapan”. Penamaan ini erat kaitannya dengan kisah nenek moyang manusian. Adam dan Hawa. Menurut kisahnya, di daerah Mina ini, Nabi Adam memperoleh bisikan yang berisi harapan bahwa dia akan bertemu kembali dengan istrinya Hawa setelah tahun berpisah sejak mereka diturunkan dari Surga ke Bumi oleh Allah SWT. Beberapa hari kemudian, atas izin Alaah SWT., Nabi Adam akhirnya bertemu dengan isteri tercinta yang telah lama dirindukan dan merindukannya. Pertemuan antara Nabi Adam dan Hawa ini terjadi di Jabal Rahmah, sebuah bukit kecil dikawasan Padaang Arafah.

Dalam perjalan melalui perbukitan sepanjang satu mil menuju Mina, ada pula daerah yang disebut Aqabah. Temapt ini amat dinkenal dalam sejarah Islam sebab disinlah Nabi Muhammad SAW menerima bai’at sebanyak dua kali dari kaummuslimin yang datang dari Madinah. Dalam kedua bai’at tersebut, kaum muslimin Madinah berjanji membela, menjamin keselamatan, dan memperlakukan Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin Mekkah dengan baik jika berhijrah dari Mekkah ke Madinah.

Hal lain yang mnarik untuk dikunjungi di Mina adalah sebuah masjid yang terkenal dengan nama Masjid Al Khaif yang dinamakan jugan dengan Masjid Nabi Ibrahim a.s. Masjid ini terletak di di dekat jumrah Ula. Masjid raya ini mempunyai halaman yang sangat luas diberi pagar disekelilingnya. Sebelah barat di sepanjang pagar tersebut terdapat bangunan yang terdiri dari kamar-kamar asrama bagi yang membutuhkannya. Masjid ini dibangun oleh Sultan Saladin (Salahudin yusuf Al-Ayubi) dengan dasar konstruksi dari sultan Qait Bay dari Dinasti Mamluk.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY