Mahram atau Muhrim

Mahram atau Muhrim

1648
0
SHARE

MAHRAM

Mahram berasal dari bahasa Arab al-mahram yang bermakna dan dilarang.Dalam istilah Fikih,Mahram diartikan sebgai wanit wanita yang haram dikawini seorang laki laki ,baik larangan itu bersifat permanen (sementara ).Meskipun kurang tepat,kerapsekali istilah ini disebut sebagai muhrim dengan arti yang tidak berbedadengan mahram.Padahal muhrim (Orang yang menyebabkan haram )Mengandung pengertian suami ,yaitu orang yang menyebabkan istri tidak boleh kawin dengan laki-lak lain selama masih terikat tali perkawinan atau istri masih dalam iddah talak taj’i.Kata muhrim bisa juga berarti orang yang sedang melakukan Ihram dalam ibadah haji dan umrah.Pemakaian istilah muhrim dalam ibadah haji dan umroah juga menunjukan bahwa selama memakai pakaian ikhram ,jemaah haji dilarang melakukan perbuatan tertentu ,seperti membunuh binatang ,melangsungkan perkawinan ,melakukan hubungan suami istri ,dan hal –hal yang termasuk larangan ihram lainya.Ulama fikih membagi wanita wanita yang haram dsikawini oleh seorang laki-laki kepada dua kelompok,yaitu yang haram dikawin untuk selamanya (al muabbad).

Wanita wanita yang haram di kawini untuk selamanya itu terbagi pula kepada tiga kelompok ,yaitu wanita wanita yang seketurunan (al-muharramat min al-nasab)wanita –wanita sepersusunan (al-muharramat min al rada’ah)dan wanita –wanita yang haram dikawini karena hubungan perkawinan (al-muharramat min ai-mushaharah )

Wanita –wanita yang Haram Dinikahi Karena Seketurunan

Diharamkan mengawini Wanita-wanita yang seketurunan (nasab)ialah karena secara biologis dan genealogis mereka masih mempunyai pertalian darah satu sama lain .Termasuk dalam kelompok ini adalah sebagai berikut.

  1. Asal seseorang yakni perempuian yang memiliki hubungan darah dalam garis keturunan lurus keatas:ibu,nenek(baik dari pihak ayah maupun pihak ibu ),ibu dari nenek dan seterusnya ke atas Dasarnya adalah Firman Alloh SWT.dalam surat al-Nisa ‘4ayat 23 yang artinya :

               Diharamkan atas kamu (mengawini )ibu ibumu …

  1. Keturunan seseorang ,yakni wanita yang mempunyai hubungan darah dalam garis lurus turunan kebawah : Anak perempuan ,cucu perempuan (baik dari anak laki-laik maupun anak perempuan ),dan seterusnya kebawah .Alasanya adalah sambungan ayat diatas

…(diharamkan atas kamu mengawini) anak-anakmu yang perempuan   …      

  1. Hubungan persaudaran ,yakni wanita yang mempunyai hubungan darah dalam garis    menyamping,baik sekandung maupun seayah atau seibu saja : saudara perempuan kandung,saudara perempuan seayah ,dan saudara perempuan seibu ,anka wanita saudar perempuan dan saudara laki-laki sampai kebawah .Landasannya juga sambungan ayat diatas yaitu.

…(di haramkan atas kamu mengawini) anak-anak perempuan dari saudara saudaramuyang perempuan …

  1. Saudara ayah dan saudara ibu baik sekandung,seayah, maupun seibu,yaitu para bibi sampai keatas .alasanya juga disambungan ayat diatas yaitu .

…(diharamkan atas kamu mengawini ) saudara saudara bapakmu yang perempuan : saudara –   saudara ibumu yang perempuan …

Anak perempuan bibi dan anak perempuan paman tidak termasuk wanita-wanita yang haram dinikahi .Firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab   (33) ayat 50 yang artinya :

Hai Nabi,sesungguhnya kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan maskawinya dan hamba sahaya yang kamu miliki termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan allah untukmu ,dan (demikian pula )anak –anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu,dan anak- anak perempuan dari saudara-saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu …

Larangan mengawini wanita-wanita yang disebutkan diatas mempunyai hikmah yang sangat mulia.Karena disamping dimaksudkan agar sistem dan kekeluargaan dapat berjalan secara harmonis dan penuh kasih sayang ,juga untuk menciptakan generasi penerus yang kuat dan berkualitas. Menurut imam al- kasani, Ali fikih maznab Habafi , apabila seorang laki-laki dpperbolehkan dengan wanita-wanita yang disebutkan diatas ,maka akan timbul permusuhan dan putuslah hubungan kekeluargaan yang sangat di muliakan dalam islam .Kemudian menurut salah satu atsar yang dikuatkan oleh sebuah hasil penelitian ,bahwa perkawinan seketurunan punya kecenderungan menghasilkan generasi yang lemah.

Wanita –wanita yang haram dinikahi karena Sepersususan.

Wanita –wanita yang haram dikawini disebabkan susuan (rad’ah )adalah sama macamnya dengan seluruh wanita yang diharamkan karena seketurunan .Hal ini di jelaskan oleh hadist Rasulullah SAW.

“wanita-wanita yang diharamkan (dikawini ) karena sepersusuan (radha’ah)sama dengan yang   diharamkan karena seketurunan (nasab)”(HR.Jamaah )

Perincian wanita-wanita yang haram karena sepersusuan ini adalah sebagai berikut : 1 ibu susuan karrena setatusnya sama dengan ibu ,yaitu wanita yang pernah menyusui seorang anak dalam dalam usia dan kadar tertentu .2 ibu dari ibu susuan ,karena setatusnya sama dengan nenek 3 ibu dari suami ibu susuan,karena sama setatusnya dengan nenek dari pihak ayah .4 saudara perempuan dari suami ibu susuan,karena statusnya sama dengan bibi . 5 saudar perempuan dari ibu susuan ,baik saudara perempuan seayah atau seibu .6 cucu perempuan dari ibu sususan .7 wanita –wanita (saudara –saudara )sepersusuan.

Susunan yang menyebabkan seseorang haram dinikahi adalah susuan yang diberikan kepada anak yang mash dalam usia memperoleh makanan dari air susu (usia dua tahun kebawah).Susuan inin mengakibatkan terdapatnya hubungan nasab antara anak yang di susui dengan pihak keluarga ibu yang menyusui .

Ulama Fikih berbeda pendapat mengenai batas kadar sususnan yang menyebabkan haram melakukan pernikahan .Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa sedikit banyaknya susunan tetap mengharamkan perkawinan.Alasanya mereka adalah kemutlakan Firman Allah SWT .Dalam surat an-Nisa ‘4 ayat 23 yang artinya :

(diharamkan atas kamu mengawini )ibu –ibu yang menyusui kamu dan saudara sepersusuan …

Imam Syafi’i menyatakan bahwa sususnan yang menyebabkan haram nikah adalah susunan yang dilakukan minimal lima kali sususnan dalam waktu yang tertpisah .Alasanya hadist Rasulullah SAW. yang diteriam Aisyah:

“dahuludalam ayat al-Quran diturunkan ketentuan sepuluh kali sususnan mengharamkan .Kemudian dinasakh dengan lima kali sususnan mengharamkan (HR.Muslim).

Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal perpendapat bahwa sususnan yang yang mengharamkan nikah minimal tiga kali susunan.Dalilnya adalah hadist nabi Muhammad SAW.yang juga diterima dari Aisyah Rasullullah SAW .bersabda :

“Satu dari dua kali isapan tidak menyebabkan haram nikah “ (HR> sekelompok ahli hadist )

Wanita –wanita yang haram dikawini karena perkawinan

Wanita –wanita yang haram di kawini seorang lelaki karena hubungan perkawinan adalah sebagai berikut :

  • Ibu istri (mertua ),baik istri itu telah digauli maupun hanya sekedar akad nikah,nenek istri dan seterusnya sampai keatas .Alasanya Firman Allah SWT.dalam surat an-Nisa ayat 23 yang artinya :

…(diharamkan atas kamu mengawini )ibu-ibu istrimu (mertua)…

  • Anak perempuan dari istri (anak tiri) yang telah digauli ,termasuk di dalamnya anak cucunya sampai kebawah .Alasanya adalah sambungan dari ayat diatas yang artinya:

…(di haramkan atas kamu mengawini)anak-anak istrimu yang dalam pemeliharanmu dari istri yang telah kamu campuri,tetapi jika kamu belum mencampuri istrimu itu(dan sudah kamu ceraikan ),maka tidak berdosa kamu mengawininya …

Penyebutan “…yang dalam pemeliharanmu “pada ayat diatas bukan berarti anak perempuan istri (anak tiri )yang tidak tinggal serumah dengan ibunya tidak haram dikawini.Karena penyebutan tersebut hanyalah menggambarkan kebiasaan masyarakat. Oleh sebab itu para muhaddis dan mufassir sepakat menyatakan bahwa mafhum mukhalafah ayat tersebut tidak berlaku .Akan tetapi ilama mazhab Zahiri berpendapat anak perempuan istri (anak tiri )yang tidak berada dalam pemeliharaansuami boleh dikawini.

  • Istri anak (menantu perempuan ),istri cucu dan seterusnya ,sesuai dengan sambungan ayat diatas yang artinya:

…(dan diharamkan atas kamu mengawini)istri-istri anak kandungmu (menantu)..

  • Istri ayah (ibu tiri),baik telah dicampuri oleh ayah atau belum .Alasanya adalah surat al-Nisa ‘(4) ayat 22 yang artinya :

 

Dan janganlah kamu kawini wanita –wanita yang telah di kawini oleh bapakmu ,kecuali pada masa yang telah lampau.sesungguhnys perbuatan itu amat keji dan di benci Allah serta seburuk burukjalan (yang tempuh)

Menurut ulama Mazhab Hanafi ,termasuk juga yang di haramkan karena perkawinan adalah sebagai berikut : a)wanita yang dikawini dengan akad yang fasid, tetapi telah di campuran, Seperti perkawinan yang dilangsungkan tanpa kehadiran saksi .b)Wanita yang di campuri karena syibhah (keraguan),seperti seoarang wanita menjadi pasangan pengantin waktu perayaan pernikahan ,yang bukan wanita yang dinikahinya ketika akad nikah berlangsung (karena dia tidak melihatnya ketika akad nikah ).Setelah di vcampurinya baru,diketahuinya ternyata wanita itu bukanlah istri yang dinikahinya .Wanita seperti ini di kalangan ulama mazhab hanafi dikenal sebagai al-mar’ah al-mazfufah (wanita yang dipersanding kan ketika perayaan nikah ).Alasan ulama mazhzb hanafi dalam hal ini adalah karena wanita-wanita itu telah dicampuri oleh lelaki tersebut.Sementara jumhur ulama tidak memasukkan jenis wanita ini menjadi penyebab haramnya menikahi ibu dan anak perempuannya.

         Persoalan lain yang berhubungan dengan hal ini dan menjadi perbincangan dikalangan ulama adalah mengenai wanita yang dizinai.Menurut ulama mazhab Habafi dan Hambali perzinaan yang dilakukan seorang laki-laki dengan wanita ,baik melalui vagina maupun anus, tetep mengakibatkan wanita itu haram dinikahi oleh anak dan ayah lelaki tersebut. sebagaimana juga haram bagi laki-laki tteersebut menikahi ibu dan anak wanita yang dizinai nya itu.Demikian pula hubungan homoseksual tetap membawa akibat yang sama,yakni ibu dan anak wanita dari pria yang menjadi obyek homoseksual .tersebut haram dinikahi oleh lelaki yang melakukan perbuatan tersebut .

         Ulama mazhab Hanafi bahkan mengatakan bahwa perbuatan seorang laki-laki mencium dan memeluk wanita juga berakibat terhalangnya lelaki tersebut kawin dengan ibu dan anak perempuan dari wanita yang dicium dan di peluknya itu.Alasanya mereka adalah karena mencium dan memeluk seorang wanita yang bukan istrinya merupakan jalan yang membawa terjadinya hubungan seksual .Oleh sebab itu perbuatan seperti itu termasuk dalam kategori perzinaan ,sebagai hukum ihtiyat (kehati –hatian dalam menetapkkan hukum)

Ulama mazhab maliki dan mazhab Syafi’i berpendapat sebaliknya.Mereka mengatakan bahwa perbuatan zina ,ciuman pelukan ,dan homoseksual tidak menimbulkan halangan perkawinan dengan seluruh keturunan wanita yang dizinai dan laki-laki yang di jadikan obyek homoseksaual .Alasan mereka adalah: a)Rasulullah SWT .pernah ditanya seseorang tentang lai yang berzina dengan seorang wanita ,lalu lelaki teersebut ingin menikahi anak dari wanita yang dizinzinya itu.Rasulullah SAW ,Ketika itu menjawab:

“Yang haram itu tidak bisa mengharamkan yang halal ,seseungguh nya yang di     haramkan adalah yang dengan akad nkah “(HR.Baihaqi dan ibnu Majah )

Menurut ulama mazhab maliki dan mazhab Syafi’i ,hadist ini secara tegas menyatakan             bahwa yang menjadi penghalang adalah adanya akad perkawinan,bukan terjadinya zina .

b)Hubungan perkawinan merupakan nikmatbyang diturunkan Allah SWT .yang dapat menyatukan keluarga yang dulunya saling berjauhan dan bahkan tidak saling mengenal. Dalam hadist disebutkan :

“Hubungan perkawinan itu adalah daging ibarat dagingnya seketurunan “(HR.Ahmad bin Hanbal dan Thabrani ).

c)Allah SWT .berfirman dalam surat an-nisa ‘(4)ayat 24 yang artinya :

       … Dan di halalkan bagi kaum selain yang demikian …

Menurut Ulama mazhab maliki dan Syafi’i wanita yang dizinai tidak termasukl kedalam kandungan ayat ini .

Wanita wanita yang haram dikawini untuk sementara waktu

Ulama sepakat mengatakan bahwa wnita –wanita yang haram dikawini untuk sementara waktu itu di sebabkan adanya penghalang yang menyebabkan tidak di bolehkanya mengawini mereka apabila penghalang itu sudah tidak ada lagi maka bolehmwngawini mereka.Adapaun wanita –wanita yang haram di kawini untuk sementara waktu itu adalah sebagai berikut:

  1. Mengumpulkan dua orang wanita yang mempunyai hubungan kekerbatan seperti mengawini dua wanita bersaudara sekaligus dengan bibinya.Alasanya adalah Firman Allah SWT .dalam surat an-Nisa ‘(4)ayat 23 yang artinya

…dan (diharamkan atas kamu)menghimpunkan (dalam perkawinan)dua perempuan yang bersaudara ,kecuali yang terjadi pada masa lampau …

               Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah disebutkan :

“Rasululah SAW .melarang menghimpun (untuk dinikahi)antara seorang wanita dengansaudara perempuan ibunya dan anatara seorang wanita dengan saudara perempuan ayahnya (HR.Bukhari dan Muslim ).

  1. Wanita yang masih bersetatus sebagai istri orang lain ,sekalipun secara hukmy (legal) ,seperti dalam masa iddah talak raj’i.Hal ini di dasarkan kepada Firman Allah SWT .dalam surat an-Nisa ‘(4) ayat 24 yang artinya :

Dan (di haramkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami kecuali bidak- budak yang kamu miliki

Wanita w-wanita yang masih dalam iddah di cerai suaminya termasuk kedalam larangan ini karena secara hukum mereka masih terikat dengan suaminya .Apabila iddahnya telah habis dan suaminya tidak rujuk lagi kedepanya ,maka barulah lelaki lain boleh menikahinya .

  1. Wanita yang telah di talak tiga .apabila seorang suami telah mentalak tiga istrinya ,maka ia tidak boleh kawin lagi dengan bekas istrinya tersebut terkecuali,bekas istri itu kawin dulu secara suka rela dan sah dengan laki-laki lain.Apabila wanita itu bercerai pula dengan suaminya yang kedua setelah setelah bergaul ,barulah bekas suami pertama boleh kawin dengan wanita itu.Alasanya Firman Allah SWT .dalam surat al Baqarah (2)ayat 230 yang artinya :

Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua) ,maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan lelaki lain.Kemudian jika suami yang lain menceraikanya ,maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika kuduanya berpendapat akan dapat mwnjalankan hukum hukum Allah

  1. Waniata yang sedang ihram untuk ibadah haji dan umrah .Wanita-wanita seperti ini tidak boleh dikawini,baik secara lansung maupun melalui perwalian dan perwakilan.Dasarnya     adalah sebuah riwayat dari Usman bin Affan Bahwa Rasulullah SAW .bersabda:

“Wanita yang sedang ihram tidak boleh dinikahi ,dinikahkan dan di pinang “(HR.Tirmidzi)

              5 .        Wanita yang berzina .Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini Mwnurut Ualama

Mazhab Hanafi .wanita berzina yang tidak hamil boleh dinikahi .sementara itu,wanita berzina yang hamil juga boleh dinikahi ,tetapi tidak boleh digauli melakuikan huhbungan seksual sampai anaknya lahir Alasanya adalah Nabi Muhammad SAW bessabda :

“Siapa yang berimam kepada Allah dari hari akherat ,janganlah ia menyirami kebun orang lain “( HR Tirmidzi dan Abu Dawud )

Akan tetapi imam Abu Yusuf dan Zufar bin Huzail bin Qais al-Kufi .keduanya ahli Fikih Mzhab Hanafi,berpendapat bahwa wanita yang hamil karna zina tidak boleh dinikahi. kehamilan itu menghalangi adanya hubungan seksual ,sehinnga sendirinya melakukan akad nikahpun dilarang .Ulama mazhab Maliki Berpendapat bahwa wanita berzina tidak boleh di kawini sebelum ia menjalani masa tiga bulan semacam( iddah mereka)setelah terjadinya perzinaan,jika dinikahkan juga maka nikahnya fasid dan wajib dipisahkan ,baik kehamilanya telah jelas maupun belum .Hal ini menghindarkan tercampurnya sperma halal dan sperma haram .Ulam mazhab Syafi’i mengatakan tidak ada satupun ayatpun yang melarang seorang laki-laki mengawini wanita yang berzina .Sementara ulama mazhab Hanbali memperbolehkanya dengan dua syarat: yaitu habis masa idahnya dengan melahirkan dan ia bertobat dari perbuatan zina tersebut.Alasanya adalah hadist yang mengatakan tidak bolehya bercampur dua jenis Sprema dari dua laki laki dalam satu rahim (HR.Tirmidzi dan Abu Dawud).

7.Wanita yang telah dili’an (dituduh berzina oleh suaminya sendiri).juimhur                 utama mengatakan bahwa wanita yang telah dili’an haram dinikahi selamanya oleh suami yang meli’annya .Tetapi imam abu Hanifah dan sahabatnya Muhammad Hasan al-Syaibani mengatakan apabila perkawinan mereka dipisahkan hakim ,lalu lelaki itu ternyata berdusta dan wanita itu memaafkanya ,maka wanita itu boleh dikawini .

8.Wanita Musrik .Ulama Fikih sepakat mengatakan bahwa wanita musyrik tidak boleh dikawini.Dasarnya adalah Firman Allah SWT dalam surat al Baqarah (2) ayat 221 yang artinya :

Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik

Termasuk kedalam hukum larangan dalam ayat ini adalah wanita murtad dan pemeluk agama lain yang tidak mempunyai kitab samawi (yang diturunkan Allah SWT).

Mahram dalam Ibadah Haji

Salah satu diantara syarat-syarat haji yang bessifat khusus untuk kaum wanita adalah bahwa mereka dalam melaksanakan ibadah hajinya harus didampingi oleh suami atau mahramnya .Jika mereka tidak mempunyai suami atau mahram ,maka mereka tidak wajib melaksanakan ibadah Haji.Hal ini di dasarkan kepada sabda Rasulullah SAW:

“Istri tidak boleh melaksanakan ibadah haji kecuali di dampingi suami “(HR.Daruqutni)

Dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang wanita tidak boleh melakukakn perjalanan yang memakan waktu tiga hari, kecuali di dampngi mahramnya “(HR.Bukhari .Muslim dan Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Umar ).

Tampaknya pengertian mahram dalam ibadah haji tidak persis sama(identik)dengan mahram dalam masalah munakahat( hal yang berkaitan dengan pernikahan )Mahram dalam ibadah haji cakupannya lebih sempit dan lrbih terkait pada hubungan keluarga dan seketurunan ,atau paling jauh ,bila dihubungkan dengan pengelompokan mahram yang muabbad ( tidak boleh dinikahi untuk selamanya )bukan muaqqat( sementara waktu.)

                    Ulama mazhab Syafi’i menyatakan bahwa jika ada beberapa wanita yang dapat di percaya mendampingi wanita yang tidak mempunyai suami atau mahram untuk naik haji ,maka wanita yang tidak punya suami atau mahram tersebut wajib melaksanakan ibadah haji .Ulama mazhab Maliki ,disamping sependapat dengan dengan pendapat ualama mazhab Syafi’i diatas.menyatakan bahawa di wajibkan juga bagi wanita tersebut untuk melaksanakan ibadah haji apabila ada pendamping yang menjamin keamananya .            

SHARE
Previous articleWukuf di Arafah
Next articleIhram

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY