Ihram

Ihram

1865
0
SHARE

Ihram menurut istilah syara’, ihram adalah niat untuk melaksanakan haji atau umrah. Dengan melakukan ihram seseorang telah memasuki saat berlakunya larangan-larangan haji. Ihran ini dimulai dengan melafazkan niat, Lafaz niat bisa berbentuk “ Saya berniat menunaikan ibadah haji, untuk itu saya berihram dengan ikhlas karena Allah. “ Jika pelaksanaan haji dilakukan dengan haji qiran (melaksanakan haji sekaligus dengan umrah), maka niatnya adalah : Saya berniat menunaikan ibadah haji dan umrah, untuk itu saya berihram dengan ikhlas karena Allah.

Orang yang melakukan ihram diwajibkan memakai pakaian tertentu dengan aturan tertentu yang dkenal dengan pakaian ihram. Pakaian ihram bagi laki-laki terdiri dari 2 lembar kain. Selembar kain digunakan untuk melilit tubuh mulai dari pinggang, dilewatkan dibawah ketiak kanan dan dibuhullkan diatas bahu kiri. Sedangkan bagi wanita, disunatkan memakai pakaian putih. Pakaian wanita tidak boleh sampai menutup wajah dan kedua telapak tangan. Mengenai pakaian ihram ini dapat dilihat lebih jauh pada pembahasan tentang pakaian ihram.

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah pelaksanaan ihram tersebut harus bersamaan atau tidak dengan amalan-amalan lain, seperti talbiyah dan membawa hewan qurban (had-yu). Menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah, pelaksanaan ihram tidak harus bersamaan dengan talbiyah dan membawa hewan qurban (had-yu) atau lainnya. Pelaksanaan niat ihram yang dilakukan bersamaan dengan membaca talbiyah hjukumnya sunat saja, bukan suatu keharusan. Sedangkan ulama Hanfiyah berpendapatbahwa ihram baru terwujud apabila ada niat dan dilakukan bersamaan dengan talbiyah. Pembacaan talbiyah dapat digantikan dengan semua bentuk dzikir aytau mengalingi seekor unta yang digemukan (taqlid al-badanah) atau hewan kurban lainnya dan membawanya. Sementara itu ulama Malikiyah berpendapat bahwa ihram baru terwujud apabila dimulai dengan niat dan sunat hukumnya dilakukan bersamaan dengan pembacaan tabiyah atau tahlil., atau bersamaan dengan perbuatan yang berkaitan dengan haji, seperti tawajjuh (membaca wajahtu wajhiya…) dan mengalungi untuk yang digemukan (taqlid al-badanah).

Pelaksanaan ihram dalam haji tergolong kepada tiga macam sesuai dengan macam-macam cara pelaksanaan haji. Dalam haji yang dilaksanakan secara haji ifrad (sendiri-sendiri), ihram untuk haji dilaksanakan terlebih dahulu yang dilanjutkan dengan melaksakan amalan-amalan haji sampai selesai. Kemudian baru dilaksanakan ihram untuk umrah yang dilanjutkan dengan amalan-amalan umrah sampai selesai pula. Dalam haji yang dilaksanakan dengan cara tamattu’ (bersenang-senang), ihram untuk umrah dilaksanakan pada bulan-bulan haji (Syawal-Zulqaedah-Zulhijjah) yang dilanjutkan dengan amalan-amalan umrah sampai selesai. Kemudian baru dilaksanakan ihram untuk haji yang dilanjutkan dengan amalan-amalan haji sampai selesai. Dalam haji yang dilaksanakan dengan cara qiran (menggabungkan), ihram untuk haji dan umrah dilaksanakan sekaligus.

MIQAT MAKANI DAN MIQAT ZAMANI

Ihram harus dimulai dari miqat. Miqat adalah tempat dan waktu untuk melakukan haji. Miqat terbagi dua, yaitu miqat makani yang menunjukan tempat untuk memulai ibadah haji dan miqat zamani yang menunjukan waktu pelaksanaan haji. Miqat makani bagi orang yang melaksanakan ibadah haji berbeda-beda sesuai dengan arah datangnya orang tersebut. Bagi penduduk Mesir, Syiria, Maroko, dan daerah-daerah yang searh, seperti Spanyol, Roma, dan lain-lain, miqat mereka adalah Juhfah (sebuah desa yang terletak anatara Mekkah dan Madinah). Desa tersebut saat ini sudah tidak ada lagi sehingga miqat berpindah ke desa Rabigh yang berad dekat dengan reruntuhan desa Juhfah. Miqat bagi penduduk Iraq dan yang searah dengannya ke timur adalah Dzatu ‘Irqin. Desa tersebut berada di lembah ‘Aqiq dan disana terdapat sebuah gunung bernama ‘Irq. Miqat bagi penduduk Madinah adalah Dzul Hulaifah atau Bir Ali. Miqat bagi penduduk Nejed dan yang searah dengannya adalah Qarn al-Manazil. Miqat bagi penduduk Yaman dan India adalah Yalamlam, yaitu nama sebuah gunung di negri Tihamah.

Bagi orang yang tinggal (penduduk atau bukan penduduk) di kota Mekkah, miqat-nya adalah kota Mekkah sendiri. Sedangkan bagi orang yang tinggal diantara kota Mekkah dan miqat-miqat yang telah ditentukan diatas, miqat mereka adalah tempat tinggal masing-masing. Sedangkan menurut ulama malikiyah, bagi orang yang bukan penduduk Mekkah, disunatkan keluar dar Mekkah dan melakukan ihram dari miqat-nya.

Jemaah haji yang berasal dari Indonesia pada dasarnya termasukl dalam kategoriyang ber-miqat di Yalamlam. Akan tetapi dalam pelaksanaannya miqat lain. Jemaah haji yang berangkat terlebih dahulu ke Madinah sebelum menujuMekkah menggunakan miqat Zulhulaifah (Bir Ali) karena dismakan dengan penduduk Madinah. Sedangkan jamaah haji yang langsung menuju Mekkah menggunakan Bandara King of ‘Abd al-Aziz Jeddah sebagai miqat. Kebijakan ini berdasarkan fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang tertuang dalam Surat Keputusan MUI tertanggal 18 September 1981 setelah dibangunnya Bandara tersebut. Sebelumnya pada tanggal 29 Maret 1980, MUI juga telah mengeluarkan fatwa yang menetapkan kota Jeddah sebagai miqat jamaah haji Indonesia.

Perubahan miqat bagi jamaah haji Indonesia dari Yalamlam ke Jeddah dan kemudian ke Bandara King of ‘Abd al-Aziz adalah untuk menghindari kesulitan dan keluarnya biaya yang lebih besar apabila mengikuti miqat yang lama.

Jamaah haji yang akan menuju ke Tanah Haram untuk melaksanakan haji tidak boleh melewati miqat makani yang telah dijelaskan di atas sebelum berihram. Jika dia mel;ewati miqat makani sebelum berihram, maka dia harus kembali lagi ke tempat tersebut jika waktu dan keadaan memungkinkan. Jika dia tidak kembali, maka wajib membayar dam, meskipun masih ada miqat makani lain yang akan dilewatinya. Demikian menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa bila seseorang melewati miqat makani tanpa berihram, hukumnya haram dan harus membayar dam, kecuali bila ada miqat lain didepannya. Jika ada miqat lain yang akan dilewati, maka tidak ada kewajiban membayar dam. Walaupun demikian Dia lebih utama kembali ke miqat pertama jika waktu dan keadaan memungkinkan dan lebih utama berihram di miqat selanjutnya jika tidak memungkinkan kembali. Sedangkan ulama Malikiyah berpendapat bahwa bila seseorang melewati miqat makani tanpa berihram, hukumnya haram dan harus membayar dam, kecuali bila ada miqat lain didepannya. Jika ada miqat lain yang akan dilewati, disunatkan kembali ke miqat pertama.

Adapun miqat zamani adalah waktu dimana ihram mesti dan sah untuk dilaksanakan. Dalam menentukan miqat zamani bagi ihram ini, terdapat perbedaan dikalangan ulama. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa waktu yang menjadi ukuran kesahan haji adalah waktu bagi pelaksanaan wuquf dan thawaf ziyarah/ifadhah. Rentang waktu wuquf adalah sejak tergelincir matahari pada hari Arafah (9 Zulhijsh) sampai terbit fajar pada hari Nahar (10 Zulhijjah). Adapun rentang waktu thawaf ziyarah/ifadhah adalah sejak hari Nahar sampai akhir usia seseorang. Jadi ihram tidak termasuk rukun haji bagi mereka.

Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa miqat zamani bagi ihram adalah sejak awal syawal hingga menjelang terbit fajar pada hari Nahar (10 Zulhijjah) seatas masuh ada ada sisa waktu untuk ihram dan wuquf di Arafah sebelum terbit fajar. Menurut ulama Syafi’iyah, waktu pelaksanaan ihram haji adalah sejak hari pertama bulan Syawal sampai dengan terbitnya fajar paa hari ‘Idul Qurban (10 Zulhijjah).

HAL –HAL YANG DIANJURKAN SEBELUM IHRAM

Sebelum melaksanakan ihram yang berarti memasuki larangan-larangan haji, maka seseorang yang akan berhaji dianjurkan untuk melakukan beberapa hal. Menurut ulama Hanafiyah, hal – hal yang dianjurkan tersebut adalah sebagai berikut ;

  1. Mandi atau minimal berwudu. Hukum mandi disini adalah sunat muakad.
  2. Memotong kuku, rambut, dan kumis.
  3. Memberikan nafkah batin kepada istri. Hal ini dilakukan agar tidak terlalu lama menahan syahwat ketika ihram.
  4. Memakai wangi-wangian pada badan dan pakaian denagn ketentuan jangan sampai ada bekasnya ketika memasuki ihram.
  5. Melakukan shalat sunat dua rakaat. Dianjurkan membaca surat al-Kafirun pad arakaat pertama dan surat al-Ikhlash pada rakaat kedua.
  6. Mengucapkan : “Allahumma inni Uridu al-Hajja fayassirhu li wa taqabbalhu minni’. (Ya Allah, aku bermaksud untuk menunaikan ibadah haji, ,maka berikanlah kemudahan bagiku dan terimalah hajiku). Kemudian dilanjutkan dengan membaca talbiyah dan shalawat atas Nabi Muhammad SAW.

Menurut ulama Malikiyah, disunatkan bagi orang yang akan melaksanakan ihram melakukan hal-hal sebagai berikut ;

  1. Mandi, meskipun sedang dalam haid atau nifas. Mandi ini sunat dilakukan di Madinah al Munawwarah.Bila tidak ada air atau tidak bisa menggunakan air, maka tidak disunatkan bertayamum.
  2. Mengalungi hewan qurban (taqlid al-badanah) dan membelah punuk hewan qurban (isy’ar). Semua ini adalah sebagai tanda bagi fakir miskin bahwa hewan tersebut adalah hewan qurban sehingga akan menyenangkan hati mereka.
  3. Memakai kain sarung, jubah, dan sandal.
  4. Melaksanakan shalat nafilah/sunat sebanyak dua rakaat.
  5. Memulai ihram bersamaan dengan membca talbiyah.

Menurut ulama Hanabilah, orang yang akan melaksanakan ihram disunatkan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut ;

  1. Membersihkan badan dari kotoran dan bau yang tidak sedap, memotong rambut, dan memotong kuku.
  2. Mandi, meskipun sedang haid atau nifas. Bila tidak ada air atau tidak dapat menggunakan air, maka disunatkan bertayamum.
  3. Memakai wangi-wangian yang terdapat pada badab dan pakaian tidak menjadi masalah jika masih ada ketika memasuki ihram, dengan syarat pakaian tersebuttidak ditanggalkan.
  4. Memakai sandal, memakai sarungdan jubah yang putih, baru, dan bersih.
  5. Ihram dilakukan setelah shalat fardhu atau shalat sunat.
  6. Menentukan tatacara pelaksanaan haji (ifrad, tamattu’, atau qiran).
  7. Membaca : “allahummainni Uridu…fayassirhu li wa taqabbalhu minni. Wa in habasani habisun famahalli’ haitsu habastani” (Ya Allah, aku bermaksud untuk menunaikan ibadah haji, maka berikanlah kemudahan bagiku dan terimalah hajiku. Jika aku tertahan oleh sesuatu yang menahanku, maka tempatku dimana saja Engkau tahan aku).

Menurut ulama Syafi’iyah, orang-orang yang akan melaksanakan ihram disunatkan melakukan amalan-amalan sebagai berikut :

  1. Mencukur atau memotong rambut, menggunting kumis, memotong kuku.
  2. Mandi dengan niat niat mandi ihram, meskipunsedang dalam haid. Makruh hukumnya tidak mandi tanpa uzur. Jika tidak ada air atau tidak dapat menggunakan air, maka hendaklah diganti dengan tayamum.
  3. Memakai wangi-wangian pada badan, kecuali bagi yang sedang puasa karena hal itu dimakruhkan baginya dan kecuali juga bagi wanita yang sedang berkabung (iihdad) karena wewangian haram bginya.
  4. Berjimak sebelum ihram.
  5. Mewarnai kedua tangan hingga pergelangan dengan tanpa melukisnya bagi wanita.
  6. Mengolesi wajah dengan bahan pewarna bagi wanita.
  7. Memakai sandal dan kain sarung serta jubah putih dan baru bagi laki-laki.
  8. Shalat sunat ihram qalliyah sebanyak dua rakaat dengan bacaan sir (dilambatkan). Bila tidak bisa dilakukan, cukup dengan shalat fardhu atau shalat sunat.
  9. Mengahadap kiblatketika memulai ihram dan membaca : Allahumma Uhrimu laka sya’ri walahmi, wa dami.’ ( Ya Allah, aku ihramkan untuk-Mu rambutku, kulitku, dagingku, dan darahku). Selanjutnya membaca talbiyah.

HAL –HAL YANG DILARANG DALAM IHRAM

Apabila ibadah haji telah diniatkan dan ihram telah dimulai, maka berlakulah larangan untuk melakukan hal-hal tertentu. Larangan tersebut tetap berlaku sampai dilaksanakan tahallul. Adapun hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama dalam keadaan ihram tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Memakai pakaian berjahit bagi laki-laki ketika sedang melakukan ihram. Larangan ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW. Yang diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. :

‘Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Bagaimana cara pakaian orang yang ingin berihram ?’ Rasulullah SAW. Menjawab dengan bersabda : ‘ Janganlah kamu memakai baju, kain serban, celana, penutup kepala dan sarung kaki (sepatu), yaitu khuf kecuali untuk orang yang tidak memiliki sandal dengan syarat khuf tersebut dipotong hingga bawah mata kaki. Jangan memakai pakaian yang terkena Za’faran dan warash (sejenis parfum).

  1. Menutup kepala bagi laki-laki dan menutup muka dan telapak tangan bagi wanit yang sedang melaksanakan ihram. Alasannya antara lain hadits Ibnu Umar di atas dan hadits lain dimana Rasulullah SAW. Bersabda :

       “Jangan kamu tutup kepalanya, sesungguhnya dia akan dibangkitkan dihari kiamat dalam

       keadaan membaca talbiyah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

       Hadits ini diucapkan Nabi Muhammad SAW. Berkenaan dengan seorang laki-laki yang meninggal

       Dunia akibat terjatuh dari untanya dalam keadaan berihram. Adapun larangan bagi wanita

       Untuk menutup muka dan telapak tangannya terdapat dalam sabda Nabi Muhammad SAW. :

       “Tidak dibolehkan bagi wanita yang sedang ihram untuk memakai tutup muka da sarung

       Tangan” (HR. Bukhari dan Ahmad).

Akan tetapi, larangan tersebut tidak bersifat mutlak. Ulama Hanabilah dan Malikiyah membolehkan wanita menutup wajahnya jika diperlukan, misalnya karena ada laki-laki yang bukan suami atau mahramnya. Malikiyah mensyaratkan agar tabir wajah tidak pakai penancap atau pengikat. Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah membolehkan juga menutup muka dan kedua telapak tangan dengan syarat hanya dengan menurunkan menutup kepala ke wajah dan penutup tersebut tidak sampai menyentuh wajah itu sendiri.

  1. Memakai wangi-wangian pada badan atau pakaian ketika dalam melaksanakan ihram, seperti memakai minyak kesturi. Para ulama berbeda pendapat tentang bekas wewangian yang masih menempel pada tubuh atau pakaian akibat wewngian yang dipakai sebelum melaksanakan ihram. Kalangan Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah membolehkan dn memaafkanbekas wewngian tersebut. Sementara itu, kalangan ulama Malikiyah memakruhkannya.
  2. Memakai pakaian yang dicelup dengan sesuatu yang harum. Para ulama sepakat bahwa hal itu dapat dicuci sehingga tidak tercium lagi keharumannya.
  3. Mencium atau membawa wewangian. Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, dimakruhkan bagi orang yang ihram untuk mencium atau membawa wewngian atau berada di tempat yang harum, baik dengan maksud mencium bau harum tersebut maupun tidak. Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa apabila ada kesengajaan untuk mencium wewngian, baik dengan cara membawa atau berada di tempat yang harum, maka haram hukumnya. Sedangkan apabila tidak ada kesengajaan, ,maka tidak haram hukumnya.
  4. Memakai pacar. Tidak boleh memakai pacar bagi laki-laki dan wanita yang sedang ihram karena pacar termasuk jenis wewngian. Demikiam menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Menurut ulama Syafi’iyah, dimakruhkan bagi wanita yang sedang ihram memakai pacar. Apabila pacar itu dibuat berupa lukisan dibadan atau wanita itu sedang masa ‘iddah ditinggal mati suaminya, maka haram hukumnya. Sedangkan bagi laki-laki yang sedang ihram, dibolehkan memakai pacar di sekujur tubuhnya, kecuali kedua tangan, kaki, dan menutup kepala dengan pacar. Tangan dan kaki haram hukumnya diberi pacar, kecualiada keperluan. Ulama Hanabilah membolehkan memakai pacar bagi laki-laki dan perempuan yang sedangihram, kecuali paa kepala laki-laki.
  5. Makan atau minum yang mengandung wewangian. Orang sedang ihram tidak boleh makan atau minum yang mengandung wewangian, kecuali hilang bau atau rasanya begitu dimakan atau diminum. Demikian menurut ulama Hanfiyahm Syafi’iyah, dan Hnabilah. Menurut ulama Malikiyah, makanan atau minuman yang mengandung wewangian itu baru hilang baunya dan boleh dimakan atau diminum apabila telah dimasak.
  6. Meminyaki rambut atau badan. Ulama Malikiyah mengharamkan orang yang sedang ihram untuk meminyaki seluruh atau sebagian rambut atau badannya, baik minyak itu harum maupun tidak, kecuali karena sakit. Menurut ulama Syafi’iyah, diharamkan orang yang sedang ihram memakai minyak yang harum. Minyak yang tidak harum boleh dipakai selain pada rambut dan wajah, kecuali ada kebutuhan penting. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa diharamkan orang yang sedang ihram memakai minyak yang harum. Sedangkan minyak yang tidak harum boleh dipakai pada seluruh badan. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa wewangian buatan seperti kasturi, kamper, ambar, dan lain-lain haram untuk dipakai orang yang sedang ihram. Sesuatu yang tidak bisa dijadikan wewangian, seprti lemak, boleh dipakai orang yang sedang ihram. Sedangkan bahan baku yang bisadijadikan wewangian, seperti minyak, maka bila dipakai untuk bahan wewangian, dilarang untuk dipakai orang yang sedang ihram.
  7. Memotong atau menghilangkan rambut atau bulu badan dan kuku selama dalam melaksanakan ihram. Ketentuan ini terdapat dalam al-Quran surat al-Baqarah (2): 96 yang artinya :

… Dan janganlah kamu mencukur rambut kepalamu sebelum korban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada diantara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka wajib atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban……

Para ulama berbeda pendapat tentang kadar rambut yang dihilangkan yang menyebabkan keharusan membayar dam. Ulama Hanafiyah menetapkan kadar seperti kepala. Apabila rambut yang dihilangkan kurang dari sepertiga, tidak diwajibkan membayar dam, tetapi membayar sedekah saja. Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah menetapkan kadar minimal tiga helai rambut. Sedangkan masalah pemotongan kuku diqiyaskan (disamakan) dengan masalah pemotongan rambut.

  1. Melakukan akad nikah ketika sedang dalam ihram. Hal ini didsarkan kepada hadits Nabi Muhammad SAW. Yang berbunyi :

“Orang yang sedang melaksanakan ihram tidak boleh menikahkan orang lain, tidak boleh melakukan akad nikah, dan tidak boleh pula meminang” (HR. Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Menurut jumhur ulama yang terdirri dari ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa haram melakukan akad nikah ketika sedang ihram dan nikah yang dilakukan tidak sah. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa boleh meminang dan melakukan akad nikah dalam keadaan berihram. Ulama Hanafiyah beralasan dengan hadits Nabi Muhammad SAW. Dari Ibnu ‘Abbas yang berbunyi :

‘Nabi Muhammad SAW. Menikahi Maimunah, sedang Nabi dalam keadaan berihram.” (HR. Bykuhari, Muslim, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Akan tetapi, alasan yang dikemukakan oleh kalangan Hanafiyah dibantah oleh jumhur ulama dengan mengemukakan hadits yang berasal dari Maimunah sendiri yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW. Menikahi Maimunah dalam keadaan halal. (HR. Tirmizi).

  1. Bersenggama atau melakukan pendahuluan bagi persenggamaan, seperti mencium, memeluk, meraba, dan lain-lain. Para ulama telah sepakat tentang keharaman persenggamaan dan hal-hal yang mendahuluinya ketika sedang berihram. Hal ini didasarkan kepada ayat al-Quran surat al-Baqarah (2) ayat 197 yang berbunyi :

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimakluminya. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji…

Yang dimaksud dengan rafats pada ayat diatas adalah persenggamaan, pendahuluan persenggamaan, dan kata-kata yang keji/cabul. Ulama Hanafiyah menyatakan bahwa senggama yang dilakukan sebelum wuquf di Arafah membatalkan haji dan diwajibkan membayar dam berupa seekor unta. Sedangkan senggama yang dilakukan sebelum wuquf an sebelum bercukur tidak sampai membatalkan haji, tetapi diwajibkan membayar dam berupa seekor kambing. Jumhur ulama berpendapat bahwa senggama yang dilakukan sebelum tahalul pertama membatalkan haji dan pelakunya diwajibkan membayar dam berupa seekor unta. Adapun senggama yang dilakukan setelah tahalul kedua tidak sampai membatalkan haji, namun pelakunya dikenakan dam berupa seekor kambing.

  1. Mlakukan thawaf dalam keadaan junub, haid, atau nifas. Menurut jumhur ulama, dalam melakukan thawaf, disyaratkan suci dari hadats dan najis. Pendapat ini didasarkan kepada hadits yang berbunyi : “ Thawaf itu sama dengan shalat. Hanya saja, Allah membolehkan berbicara pada thawaf.” (HR.Ibnu Hibban dan Hakim). Dengan demikian, tahwaf tidak sah jika terdapat hadats atau najis. Sementara itu ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kesucian dari hadats dan najis bukan merupakan syarat bagi thawaf. Mereka beragumentasi dengan kemutlakan perintah thawaf yang terdapat dalam surat al0Hajj (22) ayat 29 yang berbunyi :

… dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling rumah tua (Baitullah).

Perintah pada ayat ini bersifat mutlak bagi orang yang suci dari hadats dan najis maupun yang tidak suci. Hadits yang memerintahkan kesucian bagi orang yang melakukan thawaf bagi orang yang melakukan thawaf adalah hadits ahad, sehingga tidak bisa mengalahkan kekuatan ayat al-Quran sehingga tidak bisa mengalahkan kekuatan ayat al-Quran sehingga tidak bisa dijadikan sandaran hukum dalam kasus ini.Oleh karena itu, ulama Hanafiyah berpendapat bahwa thawaf yang dilakukan dalam keadaan junub, haid, dan nifas tetap sah, tetapi diwajibkan membayar dam berupa seekor unta. Sedangkan orang yang melakukan thawaf dalam keadaan berhadats kecil, diwajibkan membayar dam berupa seekor kambing.

  1. Membunuh binatang buruan. Larangan membunuh binatang buruan ini termasuk dalam al-Quran surat al-Maidah (5) ayat 95 yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barang siapa diantara kamu membunuhnya dengan segaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan yang dibunuhnya, menurut keputusan dua orang yang adil diantara kamu sebagai hadya yang dibawa sampai ke Ka’bah atau membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya…

Binatang buruan yang dimaksud disini adalah binatang buruan darat, yaitu binatang yang beranak pinak didarat meskipun hidup di air. Adapun binatang laut, dibolehkan untuk diburu dalam keadaan ihram berdasarkan firman Allah dalam al0Quran surat al-Maidah (5) ayat 96 yang artinya :

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan yang berasal dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu dan bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan diharamkan atas kamu menangkap binatang buruan dart selama kamu dalam ihram….

Menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah, binatang buruan darat yang diharamkan hanyalah binatang buruan darat yang dapat dimakan. Ulama Syafi’iyah membolehkan membunuh binatang yang berbahaya bagi keselamatan manusia, seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, berburu binatang darat itu diharamkan seecara mutlak, baik terhadap binatang yang dapat dimakan maupun yang tidak dapat dimakan.

  1. Memotong tumbuh-tumbuhan yang masih hidup ketika sedang berihram. Larangan memotong tumbuh-tumbuhan didasarkan kepada hadits :

“Sesungguhnya negeri ini ( Mekkah ) adalah negeri yang berada dibawah penjagaan Allah sampai hari kiamat, tidak boleh dipotong tumbuh-tumbuhannya dan tidak boleh diburu binatangnya…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dikecualikan dalam larangan ini adalah idzkhir (nama jenis tumbuhan yang harum), pohon sana, dan tumbuh-tumbuhan yang ditanam oleh manusia, seperti sayur-sayuran, dan bunga-bungaan. Dibolehkan juga memotong tumbuhan yang dibutuhkan untuk pengobatan, makanan ternak, dan perabot. Demikian juga dengan tumbuh-tumbhan yang membahayakan keselamatan manusia, seperti pohon berduri. Apabila seseorang memotong tumbuhan yang dilarang, maka menurut Hanafiyah, dia harus mengeluarkan harga tumbuhan tersebut dan dibelikan ke hewan korban untuk disembelih. Sedangkan menurut Syafi’iyah, dikenai denda seekor kambing bila tumbuhan yang ditebang adalah pohon yang cukup besar.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY